Sebuah Nama

Penulis: Fauzie Nur Ramadhan




“Bu, pagi ini di sekolah aku diberi tahu oleh temanku, kata dia, namaku mirip nama seorang penjahat”, bocah yang bahkan belum mengalami emisi nokturnal untuk pertama kalinya itu memasang raut wajah yang murung. 

Ibunya yang pada siang itu sedang sibuk memasak tersentak kaget mendengar cerita dari anaknya yang baru saja pulang sekolah. Minyak yang sedang panas di wajan pun sempat tercecer karena reaksi seketika. Menu siang itu adalah ayam goreng kesukaan anaknya, sebuah menu yang jarang dimasak, wajar saja sajian ayam merupakan sebuah kemewahan bagi keluarga kecil yang tinggal di pemukiman padat penduduk dengan rumah berukuran lima kali lima meter. 

“Bu, kenapa ibu diam? Aku masih bingung bu mengapa temanku bilang begitu”, ujar bocah itu. Kali ini ibunya hanya membalas dengan sedikit tertawa, yang ada di pikirannya hanya sebuah rasa heran karena seingatnya dulu ketika sekolah, tidak ada satu anak pun yang peduli dengan namanya apakah mirip nama seorang penjahat atau tidak, yang terpenting hanya teman-temannya tahu nama orang tuanya dan selalu menjadi bahan ejekan. Tentu setelahnya diikuti kejadian saling mengejar layaknya di film India karena rasa kesal. 

Bocah itu masih heran mengapa ibunya tidak mengucap sepatah kata pun dan dia teralihkan oleh bau harum ayam goreng yang dimasak ibunya siang itu. Pikirannya sudah kalah dengan perutnya yang meronta-ronta ingin melahap makanan kesukaannya, apalagi ditambah dengan nasi putih hangat. Liur hingga menetes dari bibir mungilnya itu. “Akhirnya aku bisa makan ayam lagi”, gumam bocah itu dalam hati. 

Sesaat kemudian kakak perempuannya datang, ternyata dia pulang cepat dikarenakan ada rapat guru di sekolah. Seragam putih abu-abu masih melekat rapih di tubuhnya, terlihat sedikit lusuh. Seragam itu memang sudah berumur belasan tahun, berbeda dengan teman sepermainannya yang punya seragam baru ketika masuk SMA. Seragam itu kepunyaan kakaknya, dan sang ibu bersyukur seragam itu masih muat, tidak perlu beli yang baru. Dia duduk nyaman di sebelah adiknya yang sudah kelaparan, sembari memperhatikan ibunya yang sedang menyiapkan makanan siang itu. 

“Kak, pagi ini di sekolah aku diberi tahu oleh temanku, kata dia, namaku mirip nama seorang penjahat”, ceritanya kepada sang kakak. Kali ini juga dia mendapat balasan yang sama seperti yang dia dapat dari sang ibu. Kakak perempuannya hanya kaget sesaat dan membalas dengan sedikit tertawa. Rasa dongkol muncul kembali. Kali ini teralihkan lagi oleh bau ayam goreng yang sudah matang dan disajikan tepat di depan matanya. Aroma harum dari bumbu yang tercampur menjadi satu benar-benar membuat rasa laparnya menjadi-jadi. Piringnya sudah diisi dengan nasi hangat dan sepotong ayam goreng. 

Tidak sampai sepuluh menit makanan di piring itu sudah habis. Bersih tanpa sisa. Kali ini rasa kesal akan kejadian di sekolah hilang tergantikan oleh perutnya yang sudah kenyang. Persetan dengan temannya yang sudah menyamakan namanya dengan seorang penjahat, yang terpenting perutnya kenyang siang itu. 

Dua puluh tahun kemudian, di tanggal yang sama bocah itu kembali melakukan ritual yang sama. Memakan ayam goreng kesukaannya di hari ulang tahunnya, hanya saja kali ini tanpa kakak dan ibunya. Jika pada dua puluh tahun yang lalu ia bisa berbargi aroma harum ayam goreng itu dengan kedua orang yang sangat ia sayang, kali ini tidak. Jika pada saat itu dia bisa menikmati tawa dari kedua orang yang sangat ia rindukan itu, kali ini tidak. Kali ini, yang terdengar hanya suara tangisan dan air mata yang tak tertahan. 

Dia hanya bisa merasa benci pada dirinya sendiri, mengapa harus dia yang satu-satunya selamat dari kejadian di rumah mungil mereka pada belasan tahun yang lalu, saat di mana dia baru saja keluar sekolah sambil merasa kesal. Kesal karena lagi-lagi temannya mengejek namanya yang mirip nama seorang penjahat. Penjahat yang sedang terkenal karena aksi kriminalnya dan membawa teror pada penduduk sekitar. Penjahat yang juga ternyata merampok dan membuat nyawa kedua orang terkasihnya itu melayang. Penjahat yang dia lihat berlari keluar dari rumahnya sambil membawa perhiasan ibunya dengan noda bercak darah. Penjahat yang membuat dia mengutuk namanya sendiri untuk selamanya. 

No comments:

Powered by Blogger.