Toleransi Harga Mati

Penulis : Marwatunnisa Al Mubarokah
Kebhinekaan atau keberagaman adalah kekayaan utama yang dimiliki bangsa ini. Keberagaman suku, ras, adat-istiadat, bahasa, bahkan agama. Perbedaan yang kaya ini tak ayal sering menimbulkan perdebatan dan permusuhan antar satu sama lain. Hal tersebut akhirnya menuntut kita untuk senantiasa berpegang pada pedoman Bhineka Tunggal Ika agar perdamaian senantiasa ada.

Tak hanya agama yang berbeda-beda, bahkan pemahaman dan kepercayaan mengenai Islam di tanah ini pun beragam. Sekelompok orang yang menjunjung tinggi akhlak, sopan-santun kepada guru, dan sikap zuhud atau tidak mencintai dunia. Kelompok yang mengutamakan berkah dan doa dari orang-orang sholeh seperti keturunan Rasulullah, kyai, dan ulama-ulama besar. Kelompok yang berusaha membaur ajaran Islam dengan adat budaya warga. Mereka yang senantiasa percaya bahwa kesederhanaan dan keberkahan dari Allah dalam hidup adalah hal yang begitu berharga.

Ada juga kelompok yang mengutamakan pentingnya menjadi pemangku kebijakan negeri ini. Agar Islam tetap berjaya, agar kebebasan beribadah tak dihilangkan dan dihalang-halangi. Mereka yang mengutamakan terjaganya anggota mereka melalui lingkaran-lingkaran kecil di masjid-masjid. Mereka yang dijaga amalan-amalan yauminya dalam monitor-monitor para murobbi. Liqo’ yang begitu sistematis sehingga menghasilkan kekuatan besar yang tak mudah teramati.

Kelompok lain yang memiliki banyak anggota mengutamakan kemajuan pendidikan. Universitas-universitas, sekolah dasar hingga menengah atas berdiri di berbagai kota. Kualitasnya tak perlu diragukan lagi dilihat dari banyaknya jumlah siswa. Pedoman utamanya adalah Al Quran dan As Sunnah, tanpa ada imbuhan ajaran dari ulama-ulama atau para ahli sebelumnya. Amalan-amalannya sederhana dan tidak suka menambah-nambahkan yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW.

Negara khilafah adalah tujuan utama yang sering disuarakan kelompok ini. Tulisan Lailahha illallah berada di berbagai atribut mereka. Akan ada masa kejayaan Islam kembali apabila bentuk negara adalah khilafah. Itu yang selalu mereka pegang erat dalam perjuangan dakwah mereka.

Itu hanyalah sebagian kelompok dari banyaknya kelompok Islam di tanah air. Keberagaman yang akan selalu menuntut toleransi agar tak terjadi perpecahan di negeri ini. Apalagi dengan jumlah warga muslim yang sangat mendominasi dibanding warga agama lain. Menghormati dan menghargai antar kelompok harus senatiasa dijunjung tinggi hingga titik darah terakhir. Bahkan para pahlawan Islam zaman dulu juga berjuang bersama tanpa membedakan latar belakang kelompok untuk memerdekakan negeri ini. 

Tahun 2019 adalah tahun politik, dengan dua calon yang sama-sama memiliki pendukung fanatik. Debat asyik bahkan lebih disimak saat pendukung paslon yang berdebat, bukan para calon pemimpin. Suara Islam tentu terbelah, dua ormas terbesar memiliki dukungan untuk calon masing-masing. Lebih panas, bahkan bisa disebut perang besar dalam dunia perpolitikan negeri ini.

Namun, fanatisme jangan sampai membuat diri ini abai akan pentingnya bertoleransi. Bukan cuma sekedar menghargai, namun juga tak mencela dan menghakimi mereka yang memilih calon yang berbeda dari diri masing-masing. Sebab toleransi yang akan membuat Indonesia tak kehilangan eksistensi. Sebab toleransi yang akan membuat negeri ini kuat melawah penjajahan kasat masa negeri asing. Sebab toleransi yang membuat negeri ini tak akan mati.

Selamat berpesta demokrasi di pertengahan tahun ini. Pilihlah calon pemimpin negeri secara bijak, jangan memilih hanya berdasarkan emosi. Tak lupa juga pilihlah calon perwakilan pemimpin negeri di daerah dan pusat tanpa embel-embel sedikitpun mengenai duit. Selamat berpesta dan berfanatisme dengan disertai toleransi. Jangan pernah lupa, toleransi adalah harga mati bagi setiap insan di negeri ini!

*Penulis adalah Marwatunnisa Al Mubarokah, mahasiswa kedokteran Universitas Sebelas Maret. Lahir di Tegal, 4 Februari 1997. Saat ini berdomisili di Surakarta, sedang mempersiapkan diri untuk menjadi dokter muda. Bisa dihubungi via Instagram @marwatunnisa

No comments:

Powered by Blogger.