Menjadi Mitra Sejati Perdamaian Dunia, Indonesia Bisa!

Penulis : Annisa Safitri Adhadiningrum
Konsep damai membawa konotasi yang positif, hampir tidak ada orang yang menentang perdamaian. Perdamaian dunia merupakan tujuan utama dari kemanusiaan. Perdamaian dunia adalah sebuah gagasan kebebasan, perdamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh bangsa dan negara.

Perdamaian dunia disokong oleh berbagai aspek kehidupan bangsa, diantaranya adalah pilar pilar berdirinya suatu bangsa yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, teknologi dan pengakhiran seluruh bentuk pertikaian yang ada. Begitu besar peranan aspek-aspek ini dalam menciptakan sebuah negara yang damai, aman, dan tentunya memberikan ketentraman bagi masyarakatnya.

Perdamaian dunia tidak bisa dibangun di atas bangsa-bangsa yang belum bisa mengimplementasikan kedamaian itu sendiri dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tapi perdamaian dunia akan tercipta dari bangsa-bangsa yang memiliki cita-cita yang kuat dan tekad yang kokoh untuk bersama membangun perdamaian dunia.

Siapa yang akan membangun suatu bangsa jika bukan masyarakatnya sendiri yang melakukannya? Maka dari itu, perdamaian dunia dapat dimulai dengan pembangunan karakter dan mental masyarakat sebuah bangsa dan negara.

Nilai perdamaian harus dibangun atas dasar kepahaman yang murni akan prinsip-prinsip tentang perdamaian itu sendiri. Dimulai dari masyarakatnya yang mengorientasikan perkataan dan perbuatan serta kesungguhannya untuk mencapai perdamaian itu sendiri, tanpa memperhatikan adanya keuntungan materi, ketenaran yang akan diperoleh ataupun kemunduran yang akan terjadi.

Dengan begitu setiap masyarakat akan memahami bahwa perdamaian bangsanya dan perdamaian dunia adalah tujuannya.

Pemahaman yang kokoh saja tidak cukup untuk membangun cita-cita perdamaian suatu bangsa, dibutuhkan sebuah aksi nyata dan perlakuan.

Sebuah tindakan yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan, yang merupakan buah dari pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat suatu bangsa.

Maka akan tercipta pribadi masyarakat yang mantap pemahamannya dan tulus tindak tanduknya serta optimal usahanya dalam membangun perdamaian bangsanya.

Dimulai dari membangun pribadi, dilanjutkan dengan membangun sebuah rumah tangga yang memiliki tujuan yang sama, memelihara etika dan norma-norma yang ada di masyarakat dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya.

Memahami peran sebagai masyarakat juga diawali dengan memahami peran di keluarga, mengetahui apa hak dan kewajiban masing masing anggota keluarga, dan menumbuhkan rasa saling menghargai akan peran masing-masing.

Nilai yang dibangun dalam sebuah keluarga berperan besar dalam kehidupan suatu masyarakat, karena nilai tersebut akan dibawa kemanapun kita melangkah.

Pemahamannya akan tindakan yang dilakukan serta konsekuensi yang akan dihasilkan dari tindakannya akan membantu setiap pribadi anak bangsa dalam bermasyarakat. Yang diharapkan disini adalah terbangunnya masyarakat yang saling menghargai dan menjunjung tinggi nilai keberagaman dan persatuan.

Dalam membangun perdamaian suatu bangsa juga dibutuhkan adanya resonansi kebaikan. Masyarakat yang baik akan membawa masyarakat lainnya pada kebaikan juga.

Menggaungkan nilai perdamaian di seluruh lapisan masyarakat, merangkul dan mengajak siapapun untuk ikut serta dalam mewujudkan sebuah cita cita bangsa.

Turut membimbing masyarakat di berbagai lini kehidupan, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik dan teknologi agar tercipta sebuah masyarakat yang mumpuni, memiliki kesadaran dan tujuan ysama yaitu membangun perdamaian dunia dan mengawalinya dengan membangun perdamaian suatu bangsa.

Menciptakan sebuah kebaikan tidaklah cukup tanpa membenahi segala kekurangan demi kekurangan yang ada pada bangsa ini. Dibutuhkan masyarakat profesional yang dapat membangun segala aspek bangsa sesuai dengan spesialisasinya.

Dibutuhkan kerjasama yang kuat antar bangsa dan negara. Dibutuhkan komitmen dari berbagai sisi kehidupan, bahwa keseimbangan tidak dapat diciptakan dan dipikul sendirian, tapi dibutuhkan penjagaan yang kokoh dari setiap pemikulnya.

Membangun perdamaian itu bukanlah suatu utopia, bukan juga cita-cita yang tidak dapat dicapai, dan bukan mimpi yang tidak bisa direalisasikan. Perdamaian itu mungkin. Karena itu, membangun perdamaian adalah kewajiban dan tanggung jawab utama kita sebagai pemuda.

Perdamaian tidak bisa hanya diinginkan, ia harus diciptakan. Perdamaian bukan tindakan simbolis, yang cukup tertera pada perjanjian atau undang-undang. John F. Kennedy mengatakan damai itu tidak hanya berhenti pada piagam atau kovenan. Ia terletak pada hati dan pikiran semua orang.

Dengan begitu akan menyebar cita-cita ini di seluruh penjuru dunia, yang menjadi sebuah tanggung jawab dan kewajiban bagi setiap warga Negara.

Sesuai dengan dasar Negara Indonesia pada pembukaan UUD 1945 alinea ke-empat yang berbunyi melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial

Kita bisa, menjadi mitra sejati perdamaian dunia!


*Penulis Annisa Safitri Adhadiningrum berasal dari Kota Bekasi dan saat ini sedang menempuh pendidikan semester 7 di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Aktivitasnya selain kuliah Annisa juga bergabung sebagai relawan medis di BSMI/ Bulan Sabit Merah Indonesia, dan Duta Cerita The Habibie Center Region Solo. Annisa dapat dihubungi di IG @annisaadha17

No comments:

Powered by Blogger.