Saat Orhan Pamuk Berkisah Oedipus Complex (Resensi Novel Red-Haired Woman)

Penulis : Rizal Abdurrahman
Judul Buku : The Red-Haired Woman
Penulis : Orhan Pamuk
Penerbit : Bentang
Penerjemah : Rahmani Astuti
Tebal: 341 halaman

Pernah anda merasa seolah-olah berada pada kebetulan-kebetulan yang mengubah arah hidup? Ketika sesuatu itu benar-benar terjadi barulah menyadari bahwa semua seakan telah ditakdirkan. Hal itulah yang terjadi pada tokoh Cem dalam novel The Red-Haired Women karya baru dari Orhan Pamuk.

Novel ini bercerita tentang perjalanan hidup anak laki-laki bernama Cem. Diceritakan bahwa sejak kecil ia tinggal hanya bersama Ibunya, sebab ayahnya adalah seorang aktivis gerakan kiri yang sering masuk penjara. Hubungan ayah dan ibunya semakin menjauh karena aktivitas politik ayah Cem. Hal itu juga menyebabkan ia lebih dekat dengan ibunya.

Pada umur 16 tahun, Cem terpaksa ikut bekerja menjadi penggali sumur agar ia bisa melanjutkan keinginannya masuk universitas. Ia bekerja bersama seorang ahli sumur bernama Tuan Mahmud di kota bernama Ongoren. Karena beberapa hambatan dalam penggalian, Cem dan Tuan Mahmud semakin lama juga makin dekat. Cem bahkan menganggap Tuan Mahmud adalah sosok ayahnya sendiri.

Namun pekerjaan Cem itu terganggu setelah ia melihat seorang wanita berambut merah yang ia lihat di kota dekat sumur penggalian. Wanita berambut merah itu selalu terbayang ketika Cem melakukan pekerjaannya menggali sumur. Ia merasa begitu dekat dan kenal dengan wanita berambut merah itu, bahkan ia menjadi terobsesi terhadap wanita yang berumur 33 tahun tersebut.

Setiap malam selepas pekerjaan menggali sumur selesai ia menyempatkan untuk pergi ke kota hanya untuk melihat hotel tempat wanita berambut merah itu tinggal. Hingga pada suatu malam, ia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan wanita berambut merah, dan singkat cerita mereka bercinta.

Besoknya, suatu kecelakaan menimpa Tuan Mahmud yang sedang menggali di dalam sumur, tak sengaja mesin kerek sederhana yang mereka buat putus hingga menimpa tuan Mahmud di dalam sumur. Cem begitu panik karena tidak ada jawaban suara dari dalam sumur ketika ia memanggil tuan Mahmud. Ia pun meminta bantuan ke kota namun tak menemukan bantuan. Karena ketakutan ia pun pergi dari Ongoren secepatnya.

Alur cerita kemudian terasa cepat. Diceritakan bahwa Cem kemudian dapat melanjutkan kuliah dan beristri setelah lulus. Beberapa dekade setelahnya Cem menjadi pengusaha konstruksi yang sukses, meski bayangan peristiwa di sumur itu tetap saja membayangi.

Cem dan istrinya diceritakan tidak mempunyai anak, maka dari itu mereka membesarkan perusahaan itu dengan perhatian penuh seperti anak mereka sendiri. Perusahaan itu sendiri bernama Sohrab. Nama itu berasal dari nama tokoh pada kisah di Kitab Shahnameh. Mereka memang mempunyai obsesi tersendiri tentang kisah Oedipus dari Yunani, dan kisah Sohrab dan Rostam dari Persia.

Perusahaan Cem terus berkembang sampai suatu ketika mereka menerima tawaran untuk pekerjaan konstruksi di Ongoren. Ini memaksa Cem untuk kembali ke tempat yang sudah begitu lama ia hindari itu. Seluruh rangkaian teka teki dalam cerita memang disimpan di bagian akhir ini.

Di sana Cem kemudian mengerti bagaimana cerita ayahnya yang menghilang dahulu. Pertanyaan yang menghantui hidupnya juga terjawab, bagaimana keadaan Tuan Mahmud ketika ia tinggal saat kecelakaan malam itu? Masih hidup atau tewas? Dimana pula wanita berambut merah?

Semua jawaban itu terangkum secara cepat di bagian akhir. Seluruh cerita yang awalnya seperti hanya pelengkap, ternyata banyak muncul di bagian akhir justru sebagai penentu cerita. Cerita tentang Oedipus dan Sohrab-Rustam memang menjadi ide utama novel ini juga menjadi semacam clue dari penulis untuk menebak-nebak apa hubungannya kisah tentang patricide (pembunuhan ayah oleh anak) dan feicide (pembunuhan anak oleh ayah) tersebut dengan keseluruhan isi cerita?

Menelusuri Kepribadian dan Takdir
Bukan hal yang remeh ketika Orhan Pamuk membuat novel bertemakan hubungan ayah-anak ini. Cerita tentang hubungan yang rumit antara ayah dan anak semacam ini memang banyak dituturkan dalam berbagai kebudayaan. Di Indonesia sendiri saya jadi teringat kisah Sangkuriang yang tak sengaja membunuh ayahnya dan tak sengaja pula menikahi ibunya. Cerita Sangkuriang itu sangat mirip dengan kisah Oedipus dari Yunani. Dalam kitab suci juga diceritakan tentang Ibrahim yang harus menyembelih Ismail yang mirip dengan kisah Sohrab-Rostam.

Tak heran juga jika seorang perintis illmu Psikoanalisis, Sigmund Freud bahkan membahas hubungan ayah-anak ini secara serius. Pembaca familiar dengan istilah Oedipus Complex? Istilah ini biasanya digunakan untuk menyebut seorang pria yang meyukai sosok wanita yang lebih tua. Sigmund Freud berpendapat bahwa perkembangan kepribadian seseorang berkaitan dengan perkembangan seksualitasnya sejak masih kanak-kanak.

Ia berpendapat sejak kanak-kanak manusia mempunyai seksualitas yang berbeda ketika dewasa, karena pada masa kanak-kanak mereka tidak mengetahui norma. Nah Oedipus Complex ini merupakan salah satu gejala yang terjadi dalam proses perkembangan seksualitas anak yang nantinya turut mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.

Oedipus Complex terjadi pada fase Phallic (umur 2-5 tahun), yaitu fase ketika anak mulai mengarahkan kesenangan seksualnya pada orang tua. Ini mengikuti dua fase sebelumnya yaitu fase oral ketika anak menemukan kesenangan dengan mulut dan fase anal ketika anak menemukan kesenangan dengan saluran pembuangan kotoran. Pada fase Phallic ini anak-anak mulai mencintai orang tua yang berkelamin lawan jenis dengannya dan menjauhi orangtua yang berkelamin sejenis karena menganggap bersaingan untuk mendapat perhatian penuh ibunya.

Jika proses perkembangannya ini normal anak-anak akan menyadari ketidak-patutan itu kemudian merepresi rasa cinta pada ibunya dan mengalihkan kepada teman-temannya yang berlainan jenis pada fase selanjutnya. Nah proses represi rasa cinta kepada Ibu dan kebencian pada ayah ini yang sering mempengaruhi kepribadian seseorang ketika dewasa karena ia hanya tersembunyi (direpresi) ke dalam alam bawah sadar seseorang, tidak dihilangkan.

Dampak ketika fase ini gagal adalah orang akan berusaha menyelesaikan fase ini pada fase-fase perkembangan yang lebih lanjut, salah satunya adalah mencintai sosok yang lebih tua ketika ia dewasa untuk menggantikan sosok ibunya. Maka dari itu Oedipus Complex sering dialami oleh keluarga yang broken home.

Nampaknya itu yang juga ingin ditampilkan dalam novel The Red-haired Women karya Orhan Pamuk ini. Cem sang tokoh utama juga digambarkan ditinggal oleh ayah sejak kecil, kemudian dalam perjalanan hidupnya Ia mencintai seorang yang jauh lebih tua darinya (Wanita Berambut Merah) yang ternyata juga sempat mempunyai hubungan dengan ayahnya. Ia juga tanpa sengaja hampir membunuh “ayahnya” di dalam sumur. Bukan hanya disitu keterkaitannya, ia tak sengaja dibunuh oleh seseorang yang mengaku anaknya di Ongoren.

Meski demikian, pembaca tidak perlu khawatir akan mendapat novel yang kompleks seperti novel-novel buatan peraih nobel pada umumnya. Novel ini sejujurnya jenis bacaan yang mempunyai alur ringan dan sederhana sehingga mudah dipahami. Soal Oedipus Complex tentu hanya renungan saya pribadi saat membaca novel sederhana ini. Toh Oedipus Complex sendiri banyak ditentang oleh penerus-penerus Freud pada masa kemudian karena seakan menjeneralisir persoalan.

Kesederhanaan novel justru sebenarnya membuat saya merenungi beberapa hal untuk mendapat makna yang lebih jauh dari novel. Saya bahkan mencurigai Pamuk juga ingin menyampaikan tentang sinkronisitas yang dikemukakan oleh murid Freud, Carl Gustav Jung.

Kebetulan dan ketidak-sengajaan yang terjadi pada cerita-cerita yang disuguhkan pada novel seakan Pamuk ingin mengajukan pertanyaan, memangnya kebetulan-ketidaksengajaan itu apa? Pertanyaan itu seakan mengemukan ketika merenungi tragedi yang terjadi pada hubungan tokoh Cem -Tuan Mahmud, Cem - Ayahnya, Cem - Anaknya, Oedipus - Ayahnya, dan juga pada Sohrab - Rostam yang menjadi ruh dari novel ini.

Dan apakah kebetulan juga jika tragedi itu juga dituturkan di negeri kita melalui cerita Sangkuriang? Bukankah kebetulan sendiri hanyalah keadaan ketidaksadaran kolektif sehingga menyebutnya takdir? Hanya dengan renungan-renungan itu saya bisa memaklumi kesederhanaan alur yang ingin ditampilkan oleh penulis besar ini.

No comments:

Powered by Blogger.