Tentang Mimpi Yang Tak Pernah Usai

Penulis : Annisa Safitri Adhadiningrum
Aku adalah seorang anak perempuan 12 tahun yang mengenyam pendidikan di sekolah berasrama. Jauh dari orang tua di umurku yang masih belia ternyata tidaklah mudah, teman dan guru dari berbagai daerah menjadi keluarga baru bagiku. Di tempat inilah pencarian jati diriku dimulai, aku membangun mimpi untuk menjadi seorang dokter.

Sampai aku berumur 16 tahun, kebimbangan menghampiriku, satu persatu teman temanku menyebutkan impiannya ingin berkuliah dimana. Aku tertegun. Banyak sekali ya yang ingin jadi dokter. Akupun ingin segera mengakuinya bahwa aku juga punya cita cita yang sama.

Sholat dhuha yang menjadi tempat pengaduanku kala itu. Jam 07.30 di hari Minggu, terdengar alunan merdu nasyid tashiru di lorong asrama. Kamar bersih, badan wangi, kasur pun sudah rapi, inilah saatnya menyampaikan mimpi dan mengadu kasih pada Illahi.

Pikirku seperti di sinetron Islami saja, sholat dhuha dengan alunan musik syahdu. Jangan jangan ada yang merekamku? Tawaku kepada diri sendiri. Membuatku geli, ternyata hal seperti ini juga termasuk percaya diri ya?

Entah mengapa pagi itu berbeda, seusai sholat dhuha, kupanjatkan sebuah doa.

“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah dhuha-mu, keagungan itu merupakan keagunganmu, keindahan itu merupakan keindahanmu, kekuatan itu adalah kekuatanmu, kekuasaan itu adalah kekuasaanmu, dan penjagaan-penjagaan adalah penjagaanmu."

“Ya Allah, jika rezeki aku masih di langit maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sulit maka mudahkanlah, apabila itu haram maka sucikanlah, jika jauh maka dekatkanlah. Demi kebenaran dhuhamu, keagunganmu, keindahanmu, kekuatanmu dan kekuasaanmu, berikanlah kepadaku sebagaimana apa yang engkau berikan kepada hambamu yang sholeh”

Sholat dhuha adalah sholat yang di dalamnya kita dapat mengkhususkan doa atas rizki dan karunia-Nya. Bukankan terkabulnya mimpi kita merupakan rizki dari-Nya?

Terbuka pikiranku kala itu, bahwa mimpi hanya akan jadi mimpi jika tak kau sampaikan dan tak kau doakan. Pikiranku mulai melayang-layang, merangkai satu demi satu tahapan yang harus kutempuh untuk mewujudkan cita-citaku.

Sampailah aku pada ingatan tentang perkataan seorang kakak kelas yang kuteladani sejak lama. “Kalau punya cita cita harus jelas, apa, kapan, dan dimananya. Cita-cita itu harus dituliskan dan dititipkan pada Ia sang pemilik kekuasaan. Nah jangan lupa didoakan dimanapun, kapanpun, dan di saat apapun. Karena kita gak pernah tau, kapan doa kita akan di ijabah oleh-Nya.”

Mulailah aku dalam pengejaran mimpiku. Aku tentukan universitas mana yang akan aku tuju, aku tuliskan dan aku pajang gambarnya di dinding kamar, di Al Quran, di balik pintu lemari, dan dimanapun tempat yang mudah untuk kupandang. Tak lupa nasihat papa yang begitu melekat, saat kuinginkan sesuatu, ia mengajakku. “Ayo Nak di sholawatin dulu, biar Allah tahu kalau Mbak Anis ingin itu, biar Allah bukakan dan lapangkan jalanya.”

Lalu akupun tersadar pada gambar mimpiku yang telah kupasang di segala penjuru. Tanpa ragu aku merabanya sambil berdoa “Ya Allah aku ingin menjadi seorang dokter.” Sebuah kebiasaan baru dalam hidupku, selalu kudoakan dia, dan kutitipkan pada-Nya.

Hingga tiba waktunya konsultasi dengan guru bimbingan konseling untuk menentukan pilihan di seleksi undangan masuk universitas. Jalur yang sangat didambakan setiap murid kelas 12, kata orang banyak faktor X disana. Ah, semoga saja.

Degup jantungku begitu keras bersaing dengan derap langkahku memasuki ruangan itu, bertemu dengan sosok mulia, yaitu guruku. Bismillah ucapku, tanpa ragu aku jelaskan pilihanku dan alasannya dengan begitu lengkap tanpa terlewat, lalu aku tutup ceritaku dengan sebuah pertanyaan.

“Bunda, aku ingin memilih kedokteran UNS untuk pilihan pertamaku di jalur undangan, bagaimana menurutmu?" dia diam, mimik wajahnya berubah lalu berkata “Anis kamu adalah anak yang baik, Bunda yakin sekali kamu akan diterima di jalur undangan, tapi bukan jadi seorang dokter, sainganmu berat nak, 2 temanmu yang ingin kesana nilainya lebih tinggi darimu dan mereka pun sudah menghafal Al Quran 30 juz. Karena itu, coba pilihlah jurusan lain, siapkan beberapa pilihan di seleksi ini ya.”

Habis. Habis sudah tenagaku saat itu bahkan untuk menanggapinya dengan senyuman tipis aku tak mampu. Tangga mimpi yang telah aku bangun 16 tahun itu runtuh seketika, hancur begitu saja dengan perkataannya. Itu adalah saat air mataku tumpah, aku memohon pergi dan berterimakasih kepadanya.

Berjalan di depan ruangan kelas kemudian berlari menuju asrama dengan tangan gemetar, juga air mata yang sudah tumpah ke pangkuan, aku pencet nomor ibuku, nomor ayahku, rasa rindu kepada mereka memberontak, gadis ini ingin pelukan ibunya, ingin gengaman ayahnya, dan dia menangis sejadi-jadinya.

Keyakinan demi keyakinan diutarakan pada putrinya. Dalam doa mereka peluk dan mereka kecup dahi putrinya. Terucaplah sebuah kesepakatan “Nak, gapapa jangan nangis lagi ya, itu Allah nguji kesungguhan Mba Anis. Kalau gitu mulai sekarang, kita doakan mimpi Mba Anis sama-sama ya, mamah, papah, dan adek adek semua doain mba.”

Belum, ternyata belum hilang mimpi itu dari benaknya. Malah ia tumbuh semakin kuat, besar dan merindang. Diri ini semakin tegar, semakin mengerti apa yang harus ia lakukan. Maka ia bangkit, menyusun mimpi-mimpi barunya menjadi rencana kedua dan ketiga. Sambil terus melakukan kebiasaannya, ya. menatap, meraba, dan bersholawat kepada-Nya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan tibalah saat pengisian formulir SNMPTN secara online. Mimpinya memang pernah runtuh, tapi keyakinan dalam hatinya tidak. Dengan berani, ia yakin Allah melihat usahanya dan mendengar doanya selama ini. Sungguh aku tak mau mengkhianati mimpiku sendiri. Maka ia harus dieksekusi, dengan mencantumkannya dalam pilihan pertama SNMPTN kala itu. Tertulis di sana Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret.

Lalu aku larut dalam persiapan ujian nasional dan ujian kelulusan lainya. Hatiku sudah lega. Tak ada penyesalan dalam dada, bahwa setiap keinginan ada ujiannya. Hingga hari pengumuman itu datang. Tak kuasa aku membuka web pengumuman kala itu, “Ah, ya Allah, haruskah aku buka ini?”

Kedua orang tuaku terus memaksa untuk membukanya, tertulis disana jam 17.00 pengumuman sudah dapat dilihat. Namun kuyakinkan bahwa nanti seusai sholat Isya akan kubuka, kubuat alasan bahwa web SNMPTN itu suka down kalau malam. Isya pun tiba, kulambatkan sholatku, kupanjangkan sujudku untuk meminta yang terbaik dari Allah.

Malam itu tak jadi kubuka, ternyata aku masih ingin menunda. Aku niatkan untuk membukanya ketika tahajud esok pagi. “Nak, gimana hasilnya, sudah dibuka?” tanya orang tuaku semakin menjadi-jadi. Ya Allah, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, dan aku masih menunda untuk membukanya, bagaimana ini?

Lalu kuputuskan dengan pasti, kuyakinkan diri dan bismillah. Teringat kembali ucapan ustadzku saat itu, bahwa jawaban Allah swt pada doa hambanya itu ada tiga, ya Aku kabulkan doamu, Tidak akan Ku-ganti dengan yang lebih baik, dan nanti akan ada waktu yang tepat untuk Aku mengabulkannya.

Dan atas kekuasaannya, atas rahmat dan berkahnya. Allah-pun berkata ya, kamu diterima. Sebuah kotak hijau di layar pagi itu menyilaukan mataku, menampakkan serpihan kaca yang terbendung pada pelupuk mata, ia jatuh dan menumbuhkan sebuah mimpi baru. Dalam pelukan ayah dan ibuku aku berjanji untuk bersungguh sungguh dalam menjaga amanah-Nya.

*Penulis Annisa Safitri Adhadiningrum berasal dari Kota Bekasi dan saat ini sedang menempuh pendidikan semester 7 di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Aktivitasnya selain kuliah Annisa juga bergabung sebagai relawan medis di BSMI/ Bulan Sabit Merah Indonesia, dan Duta Cerita The Habibie Center Region Solo. Annisa dapat dihubungi di IG @annisaadha17

No comments:

Powered by Blogger.