Menjadi Homo Informationis

Penulis : Iswan Heri
Siap atau tidak, mau atau tidak mau, manusia akan memasuki gelombang besar bernama dunia digital. Gelombang ini secara langsung maupun tidak akan memaksa manusia hari ini untuk mengenal teknologi. Bagi generasi yang lahir di era digital, jamak dikenal dengan generasi milenial, adaptasi dengan teknologi terbaru mungkin akan lebih cepat. Lantas bagaimana generasi selain milenial sanggup beradaptasi sebagaimana yang dilakukan generasi milenial ini?

Pemahaman akan teknologi baru tampaknya akan menjadi tantangan baru bagi setiap manusia yang hidup di era sekarang, entah itu generasi milenial maupun bukan. Untungnya, selain menyuguhkan hiburan aneka rupa, dunia digital juga memuat harta karun informasi untuk lebih mengenal siapa dirinya. Harta karun itu berupa literasi, atau yang lebih populer disebut literasi digital. Literasi digital memungkinkan setiap lapis manusia dari latar belakang apapun untuk mendapatkan akses informasi yang adil dan merata.

Hal ini mungkin menjadi salah satu jalan keluar dari literasi konvensional melalui pendidikan formal dan proses tatap muka secara fisik dengan sumber informasi. Jarak dan cakupan geografis tentu bukan perkara berarti bagi perkembangan dunia digital. Namun jangan lupa, eksistensi dunia digital sangat ditopang oleh ketersediaan akses terhadap teknologi dan jaringan internet yang memadai. Tanpa keduanya, literasi digital hanya akan menemui jalan buntu belaka.

Homo Informationis
 
Ketergantungan pada teknologi mengakibatkan manusia-manusia yang seakan tidak dapat terlepas dari konten digital.

"Abad informasi-digital tidak saja menghasilkan sebuah kebudayaan yang dibangun oleh determinisme teknologis yang sangat kuat, akan tetapi juga individu-individu yang seakan-akan tak dapat hidup tanpa informasi: mereka adalah homo informationis,” ujar Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia yang Berlari.

Kebutuhan manusia atas informasi nyaris seperti kebutuhan pokok, yakni sandang, pangan, dan papan. Dalam dunia digital, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terdepan, salah satunya terdepan dalam mengetahui informasi terbaru. Meluapnya sumber informasi yang kadangkala tidak disertai filter yang memadai, bisa berakibat fatal dalam pola berpikir dan pengambilan sikap masyarakat. Jika sudah seperti itu, masyarakat akan berada dalam situasi yang kaotik dan rapuh nalar serta ikatan sosialnya.

Oleh karena itu, penting kiranya bagi setiap individu untuk memahami dan memfilter berbagai informasi yang dikunyahnya. Setiap orang perlu untuk menggali lebih dalam apa esensi teknologi informasi.

"Esensi teknologi informasi tidak terletak pada manifestasi fisik-material teknologi itu sendiri--yaitu cara kerja teknis instrumentalnya--tetapi pada bagaimana ia mengubah cara manusia menjalankan dunia kehidupan dan membangun makna eksistensial di dalamnya. Teknologi adalah cara penyingkapan (revealing), yaitu penyingkapan sebuah dunia.” (Martin Heidegger dalam Piliang: 2017, hlm. 125).

Teknologi informasi menjadi bermakna manakala ia ditopang oleh ilmu pengetahuan dan soliditas data menuju pola kehidupan yang setingkat lebih baik. Bila tidak, maka yang hadir hanyalah simulakra atau realitas bentukan media yang tidak akan mewujud dan berkontribusi pada kehidupan sosial secara nyata.

Teknologi komunikasi dan informasi dapat dipandang sebagai sebuah 'wadah' (container), 'rumah', 'ruang', atau Umwelt, tempat seseorang mendefinisikan keberadaan dirinya dalam relasinya dengan dunia di sekitarnya, tempat ia dapat membangun identitas dan makna kehidupan. Umwelt adalah 'tempat' di mana orang dapat menemukan rasa aman (security) tetapi sekaligus kecemasan (apprehension) terhadap ancaman dunia luar. (Piliang: 2017, hlm. 159).

Teknologi mampu menghadirkan keterbukaan, kemajuan dan kebebasan, sekaligus dapat memunculkan ketakutan, ketidakpuasan dan keberjarakan.

Di titik ini, literasi digital menjadi harga mati atau taruhannya jiwa manusia yang akan mati ditelan gemuruh arus informasi dan kesimpangsiuran fakta yang tak jelas ujung pangkalnya. Setiap manusia harus membaca informasi dengan kedalaman yang cukup serta membuat filter atas informasi yang ada, sehingga yang diterimanya adalah fakta dan pengetahuan baru, bukan bualan atau informasi yang menyesatkan.


*Penulis bernama Iswan Heri blogger yang juga aktif di Klub Buku Yogyakarta. Iswan dapat disapa melalui akun IG @iswan98

No comments:

Powered by Blogger.