Pendidikan yang Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Sudah Sejauh Mana?

Penulis : Ichsan fathurahman
Pendidikan merupakan senjata utama akselerasi suatu bangsa. Lewat ranah pendidikanlah kualitas bangsa dikelompokkan menjadi bangsa berpendidikan atau belum berpendidikan. Periode waktu berjalan dengan pendidikan akan menghasilkan teknologi-teknologi serta pemikiran-pemikiran berkembang dan kritis. Nyatanya tak sedemikian juga.

Dalam ruang-ruang kelas seharusnya terjadi transfer knowledge dan transfer value. Seharusnya ada interaksi membangun keilmuan yang menjadi sarana memanusiakan manusia. Meminjam bahasa Cokroaminoto, hakikat pendidikan itu memperkokoh kemauan, memepertajam pikiran dan memperhalus perasaan.

Berangkat dari kondisi ideal pendidikan, rupanya ada gap yang semakin melebar jaraknya, ibarat luka yang kian menganga karena enggan ditangani. Semakin lama yang timbul adalah kuman dan bau yang tidak sedap. Mungkin bau itu sekarang menjelma menjadi senjata pelecut dan memperbaiki kualitas pendidikan. Pendidikan juga perlu ditangani. Kalau dibiarkan saja begini dan begini Indonesia Emas dengan bonus demografi beberapa tahun kedepan adalah kefanaan.

SDM dan SDA
Apa yang membedakan Sumber Daya Alam (SDA) dengan Sumber daya manusia (SDM). Sudah jelas SDA adalah pemberian dari Tuhan yang Maha Pemurah, sedangkan SDM merupakan upaya menjadi manusia yang berkualitas dan untuk mencapai kualitas bukanlah pemberian melainkan harus dibentuk dan dibuat oleh manusia itu sendiri.

Presiden Jokowi pernah berkata SDA seringkali justru memanjakan dan membuat malas, mengalahkan daya juang, membuat kita lengah dan tidak mendorong untuk berinovasi dan berkreativitas. Secara tersirat presiden mengetahui dan paham betul tentang SDM. Pembangunan pendidikan erat kaitannya dengan menciptakan SDM yang unggul.

Pembangunan pendidikan merupakan jalan membentuk SDM yang baik. Menurut Horace Mann seorang filsuf pendidikan mengatakan pendidikan merupakan penemuan terbesar manusia. Dan hanya dengan pendidikan yang penuh nilai dan ilmu serta pembentuk watak dengan prinsip-prinsip yang baiklah yang menciptakan SDM yang unggul. Adapun sebaliknya, pendidikan yang tanpa arah, tidak jelas tujuan dan metodenya hanya akan menghasilkan manusia-manusia yang menjadi beban di masyarakat umum. Mungkin juga menjadi sumber permasalahan yang mempersulit kehidupan.

Jika kita logika, pendidikan merupakan investasi masa depan. Bukan setahun atau dua tahun tapi masa depan, jangka waktu yang jauh. Benar memang pemerintah kita menaruh harapan besar dalam upaya meningkatkan taraf pendidikan penggunaan APBN 20 persen atau sekitar Rp 444 triliun pada APBN tahun 2018. Namun permasalahan pendidikan seakan menjadi tantangan abadi bagi pemerintah, jika penggunaan itu masih juga belum memberikan solusi artinya bukan dengan cara penggelontoran APBN saja masalah pendidikan dapat terselesaikan.

Upaya pemerintah yang sudah mempermudah akses pendidikan pun patut diapresiasi. Sayangnya, hal tersebut belum dapat menjawab pertanyaan sudah sejauh mana kualitas pendidikan kita. Selain itu ada hal yang kalah penting untuk diselesaikan. Masalah tentang ketimpangan atau tidak ratanya kualitas pendidikan.

Solusi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Disinilah pentingnya pendidikan dilakukan dengan terus menerus menempa manusia, dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan cuma akademik tapi juga kecakapan interaksi sosialnya. Menjadi pelopor mencetak generasi yang cerdas.

Untuk mencapai generasi yang cerdas perlu dilakukan upaya-upaya sebagai bentuk upaya akselerasi banga. Bagi pemerintah, harus ada peningkatan standarisasi kriteria guru terkualifikasi. Bagi aktor pendidik dalam kelas sebagai unjung tombak membentuk generasi cerdas harus menyadari peran dan identitas masing-masing. Selain itu aktor pendidik juga bertanggung jawab untuk menjalankan tugasnya kepada murid-muridnya dan mengubah pola pikir mereka ke arah yang lebih baik. 
Pendidikan aktif, berkarakter dan bukan konsumerisme yang perlu ditekankan. Sedangkan untuk para murid, pastikan belajar merupakan proses memperoleh kompetensi intelektualitas dan menciptakan generasi yang tangguh dengan permasalahan yang ada. Sungguh sangat disayangkan dalam menyambut bonus demografi kelak jika tidak dilakukan investasi besar SDM ini. Pendidikan dalam upaya mencerdaskan bangsa juga harus memperhatikan pengembangan SDM untuk menunjukkan bahwa bangsa kita tidak ketinggalan dalam pendidikan. Semoga!
*Penulis merupakan mahasiswa Pendidikan Kimia FKIP UNS. Untuk diskusi silahkan email ke ichsanfath04@gmail.com

No comments:

Powered by Blogger.