Perempuan Menikah Dinilai Sudah Tidak Feminis Lagi?

Penulis : Woro Seto A
Beberapa hari yang lalu, tepatnya Minggu 24 Maret 2019 akun Instagram @Indonesiafeminis mengunggah sebuah postingan video Youtube milik media The Guardian. Video tersebut berjudul ‘Women, face it: marriage can never be feminist – Julie Bindel. Sebenarnya video tersebut diunggah pada 25 Mei 2016 lalu, namun video tersebut kembali ramai diperbincangkan. Tak hanya video tersebut yang mendapat beragam komentar, namun keterangan yang ditulis @Indonesiafeminis juga menimbulkan pro dan kontra. 

Saya pribadi tidak ingin mengomentari terlebih menghakimi postingan @Indonesiafeminis dengan caption seperti itu. Namun, saya tergelitik untuk membahas soal gerakan feminisme. Tentu setiap gerakan sekolompok orang didasari atas kondisi yang tidak ideal. Misalnya, gerakan feminisme di Amerika akan berbeda dengan gerakan feminisme di Arab Saudi, karena kondisi sosial masyarakatnya berbeda. Namun saya yakin bahwa gerakan feminisme menginginkan keadilan dan kesetaraan gender. 

Soal penilaian perempuan menikah sudah tidak dianggap feminis lagi, sepertinya kurang tepat. Menikah dan tidak menikah adalah sebuah pilihan. Karena sejatinya manusia diciptakan untuk bisa berpikir dan melakukan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri. Menikah boleh saja, tidak menikah juga boleh, yang menjadi masalah adalah ketika pilihan itu dipaksakan, bukan atas kemauan sendiri. 

Terlebih jika memutuskan menikah hanya takut jadi bahan guncingan tetangga, karena umur sudah masuk angka 30-an, dan segala mitos-mitos yang sebetulnya tidak benar. Lantas, apakah perempuan yang sudah menikah dianggap tidak feminis lagi? Sebenarnya, feminis atau tidak, kita harus melihat prinsip-prinsip yang dimiliki seseorang. 

Perempuan yang sudah menikah juga memiliki tantangan tersendiri di tengah masyarakat kita yang masih belum ramah keadilan dan kesetaraan gender. Misalnya, ia berani menyuarakan prinsip-prinsipnya yang mungkin berlawanan dengan prinsip suami dan keluarga. Ia harus berani melakukan praktek-praktek feminisme yang dianggap tabu di masyarakat patriarki kita.

Seorang perempuan feminis yang memutuskan menikah harus tetap memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri. Melakukan aktivitas yang disukainya tanpa ada unsur paksaan. Perempuan tetap bisa berkarya dan mengembangkan bakatnya. Tetap bekerja jika ingin bekerja dan segala pilihan-pilihan berdasarkan keputusannya sendiri. Ia tetap melakukan amal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk umat manusia. 

Perempuan feminis yang sudah menikah juga punya tugas berat lho? Dia harus mengedukasi suami dan keluarganya bahwa semua pekerjaan rumah bisa dilakukan siapapun. tidak ada pekerjaan laki-laki dan perempuan. Ia harus berani mengedukasi masyarakat bahwa ketika suami mencuci dan menjemur baju bukan hal yang perlu diguncingkan. 

Belum lagi ketika perempuan itu memilih untuk memiliki keturunan. Ia wajib memberikan edukasi kepada sang anak tentang kesetaraan dan keadilan gender. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak ingin menikah? Ya itu boleh saja, asal tidak ada unsur paksaan. Terlebih takut tidak dianggap feminis lagi. Ia juga memiliki tantangan yang berat juga, harus memberi pemahaman bahwa tidak menikah juga akan baik-baik saja, tidak menikah bukan sebuah masalah serius. Intinya perempuan merdeka atas dirinya dan keputusan untuk hidupnya.

Siapapun bisa kok dinilai pejuang feminisme, tidak pandang gender, tidak pandang status, tidak pandang pendidikan. Ketika ia berani menyuarakan keadilan dan kesetaraan gender, ia layak disebut feminis. Sekali lagi, feminisme bukan berarti merendahkan laki-laki atau membenci laki-laki, feminisme bukan berarti harus mengalahkan laki-laki, feminsime harus single dan tidak menikah, itu semua tidak benar guys.

Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik. Feminisme tentang mengubah peran-peran gender, norma seksual dan praktek-praktek seksis yang membatasi diri.

Perempuan berhak mengekspresikan dirinya, baik dalam penampilan maupun ekspresi pemikiran. Perempuan harus mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama dengan laki-laki, perempuan hidup aman tanpa pelecehan dan kekerasan seksual, perempuan harus berkesempatan bekerja dan berkarier seperti laki-laki, perempuan bebas memilih atas pilihannya sendiri tanpa ada unsur paksaan dan ancaman. 

Apakah gerakan feminisme ini masih relevan? Jawabannya pasti iya. Baik hidup di kota maupun di desa, perempuan-perempuan masih banyak yang tidak mendapatkan kesetaraan. Perempaun yang bekerja di kantor misalnya, ia dinilai tidak bisa menjadi manager dengan alasan baperan, tidak rasional, dan tidak bisa memberikan keputusan dan stigma lainnya yang tidak menguntungkan perempuan.


*Penulis : Woro Seto adalah founder Gerakan Ramah Perempuan (@ramahperempuan). Woro bisa disapa melalui akun IG @woroseto

No comments:

Powered by Blogger.