Masih Betah Sekolah?

Penulis : Mohamad Darril Hermawan
“Tujuan pendidikan adalah mempertajam pemikiran, memperkokoh kemauan, serta memperhalus perasaan”
(Tan Malaka)
Pendidikan adalah sebuah proses, maka sejatinya sebuah proses tidak bisa diterapkan secara instan. “Pendidikan itu nafasnya panjang”, kata seorang aktivis kala itu. Maka akan berbeda cerita ketika sebuah proses pendidikan ini dilakukan secara instan, atau yang kita rasakan saat di bangku sekolah merupakan salah satu akumulasi dari proses pendidikan yang kian hari kian menurun kualitasnya. 
Kita sering disuguhkan berbagai mata pelajaran yang seolah menjadi beban hidup kita. Mengapa bisa dikatakan demikian? Sekarang ini makna pendidikan telah tereduksi menjadi sebuah ungkapan lain, yaitu pengajaran. Bagaimana tidak, bahwa proses pembelajaran yang terjadi di sekolah kini kian normatif, banyak dari kita yang hanya merasakan penyampaian materi, bukan proses perubahan tingkah laku yang bisa digunakan untuk berkehidupan bermasyakarat.

Maka ketika kita tarik sedikit kesimpulan bahwa ada yang hilang pada ruang-ruang kemanusiaan di bangku sekolah, ketika hilangnya interaksi manusiawi guru dengan siswa, membincangkan masalah masalah yang siswa rasakan. Belum lagi hilangnya proses bimbingan guru terhadap siswa secara kultural, ditambah dengan hadirnya revolusi industri 4.0 yang kian menggerus pendidikan yang sejatinya tidak bisa seoptimal manusia itu sendiri.

Kita lihat bagaimana mereka sebenarnya bisa dengan mudah mengembangkan potensi mereka melalui streaming video di Youtube, mencari segala yang mereka butuhkan dalam pembelajaran di internet. Maka apa yang bisa diharapkan dengan adanya sekolah? Bahkan banyak sekolah yang malah menganjurkan siswanya untuk mengikuti les tambahan di luar sekolah. Lalu sekolah untuk apa? Ini yang kemudian menjadi pertanyaan dan timbul pertanyaan baru, apakah sekolah akan tetap diadakan? Sedangkan esensi pendidikan yang ada sekarang sebenarnya bisa terwadahi dengan media lain seperti internet.

Namun satu hal yang pasti, saya berpendapat bahwa adanya sebuah proses pembelajaran secara langsung adalah suatu hal yang tidak bisa tergantikan oleh media apapun. Ketika penanaman nilai-nilai kehidupan ada di dalamnya, ketika berbagai problem solving hadir di tengah diskusi hangat guru dengan siswanya, maka ini yang seharusnya dipertahankan dan minimal menjadi penting adanya sebuah proses pembelajaran di bangku sekolah.

Perlu adanya pembaruan di dalam sistem pendidikan kita, saya kira program sertifikasi guru menjadi salah satu solusi bagi pendidikan di negara kita, meski kenyataannya hasilnya tidak jauh beda, kualitasnya pun tidak bisa dikatakan lebih bagus. Memang ada pelatihan lebih disana, namun banyak yang hanya mengincar gelar, maka sebenarnya inilah yang menjadi masalah di negara kita. 
Kesadaran bersama membenahi masalah yang ada di bangsa ini tidak benar-benar hadir di setiap individu dari kita. Bahkan peran ini sejatinya tidak hanya untuk guru, namun bisa melalui orang tua, kakak beradik, atau bahkan teman sebaya. Karena pendidikan sendiri adalah bidang yang kompleks.

Dan yang sekarang kita rasakan adalah sebuah pembelajaran normatif yang berkelanjutan tanpa adanya esensi pengembalian jati diri mereka sebagai manusia seutuhnya dengan setiap potensi yang ada. Akhirnya kegiatan yang ada hanyalah menggeneralisir seluruh siswa dengan hasil yang biasa saja. Mereka merasa kurang terbantu dalam mengembangkan potensi mereka di sekolah. Yang mereka rasakan hanyalah beban kegiatan pembelajaran biasa. 
Menjadi tugas besar kita sebagai manusia yang tersadarkan, minimal memiliki keresahan yang sama untuk kemudian merakit kerja-kerja kecil dan menjadikan suatu momentum besar untuk pendidikan bangsa Indonesia, untuk masa depan bangsa tercinta.

*Penulis Mohamad Darril Hermawan. Saat ini sedang menempuh kuliah di Fakultas Pendidikan Teknik Informatika & Komputer UNS 2016.

No comments:

Powered by Blogger.