Resensi Film Black Swan: Ketika Pertentangan Batin Menghadirkan Sisi Gelap

Penulis : Larastanie Afdha
“Perfection is not about control. It’s also about letting go.”
Thomas Leroy

Film arahan Darren Arronofsky kembali menggemparkan pecinta film. Penulis skenario sekaligus pembuat film itu terkenal karena filmnya yang sureal, melodramatik, dan sering kali mengganggu. Kali ini Darren menyajikan gambaran mistik dari dongeng anak-anak terkenal berjudul Black Swan. Andres Heinz mengubah tampilan dongeng tersebut menjadi film sureal yang nyata pada kehidupan gadis berusia 28 tahun bernama Nina.

Nina Sayers (Natalie Portman) adalah seorang balerina berbakat sejak kecil yang didukung oleh ibunya mantan balerina amatir. Dia memiliki gambaran seorang gadis yang cantik, rapuh, rentan, dan naif. Suatu saat, sebuah perusahaan produksi pementasan balerina akan mengadakan pentas Swan Lake, dan secara tak terduga Nina mendapat peran penting dalam dunia balerina. Ia terpilih oleh sutradara mendapatkan peran Queen Swan setelah perdebatan yang panjang.

Nina diharuskan membawa dua kepribadian dan tarian dengan emosional berbeda demi perannya. White Swan dan Black Swan. White Swan si putih yang cantik, rapuh, polos dan gemulai. Thomas Leroy sang sutradara mengatakan bahwa Nina begitu pantas untuk memiliki peran White Swan karena begitulah dirinya yang dianggap cocok untuk peran angsa putih. Tetapi jika dihadapkan dengan peran yang bertolak belakang dengan White Swan yakni, Black Swan si hitam yang gelap, penuh gairah, dan menggoda, Nina hampir putus asa dengan perannya.

Untuk memainkan peran penting ini sekaligus membuat kebanggaan untuk ibunya, Nina terus berlatih dan mengubur rasa putus asa yang hampir memuncakinya. Terlebih lagi seorang balerina cantik asal San Francisco yang memiliki banyak teman dapat memerankan Black Swan dengan luwes dan indah. Lily (Mila Kunis) dengan mudah dianggap saingan oleh Nina yang penuh kecemasan.

Ketika Nina merasa dikhianati oleh Thomas yang berbohong dengan Lily di belakangnya, amarah, kekecewaan, dan rasa kompetisi besar memuncakinya. Dia tidak berniat untuk kehilangan perannya setelah latihan yang cukup menyiksa. Nina bertanya pada Thomas dan pria itu bilang Lily hanya akan menjadi alternatif Black Swan

Nina harus menggali jauh ke dalam sisi gelapnya sendiri demi peran Black Swan. Ketika halusinasi dan kecemasannya meningkat seiring dengan kemajuannya dalam latihan menjadi Queen Swan, suatu terobosan mengganggu gangguan saraf dan jiwanya. Ketakutan pada diri sendiri dan takut tergantikan oleh siapa pun.

Nina menjadi berbeda dari dirinya sendiri karena delusi-delusi aneh yang mengikutinya serta rasa takut tergantikan cukup mengancamnya. Ketika ia akhirnya terjerumus dalam kehidupan perannya -Black Swan- secara nyata, Nina hanya menjadi egois untuk dirinya sendiri, rela melakukan apa pun agar tak tergantikan dan terpengaruh oleh delusi yang merenggut kewarasannya.

Film ini begitu surealistic dengan teknik pengambilan gambarnya dan juga plot twist yang cukup mengejutkan pada akhir film. Musik-musik yang dikenal dalam dunia balerina menjadi backsound yang cukup menegangkan, menenangkan, seolah kita dapat merasakan apa yang Nina rasakan ketika dia melihat dirinya sendiri di kaca besar sedang membelot.

Ini adalah salah satu film yang diperankan Natalie Portman yang menjadi kesukaan saya. Di sini, Nat menjadi gadis cantik tetapi tidak didekati temannya karena aneh. Seringkali Nina berbicara dengan suara pelan kepada lawan bicaranya dan begitu polos dengan masalah hubungan seksual.

Ada begitu banyak adegan yang membuat bingung, menegangkan sekaligus menyedihkan. Adegan ketika Nina dan Lily sedang bersama banyak dijadikan adegan favorit di Amerika. Kenyataan ketika Nina memiliki delusi aneh membuat saya terkejut. Film ini begitu brilian karena telah menghadirkan sisi psikologi dalam dongeng horror. Skizofrenia adalah hal yang dialami Nina dalam perannya dimana ia mendapatkan delusi aneh yang tak masuk akal. Endingnya membuat saya tersentuh, meski tidak rela tetapi saya tetap menyukai ending yang halus.


*Penulis Larastanie Afdha gadis berusia 19 tahun seorang penulis dalam waktu senggang. Kadang menulis novel, resensi buku di Instagram dan blog. Laras dapat disapa melalui blog pribadinya dengan alamat dunialalalend.wordpress.com

No comments:

Powered by Blogger.