Cangkeman

Penulis : Muhammad Luthfi
Cangkeman #1

Seminggu mengurut kata

Tiap kali sitatap mata

Beku ia di bibir ngaga


Cangkeman #2

Bubrah : 

Persetan dengan laptop berwarna merah

meradang seperti darah, bau laksana nanah

Segepok ide tercerai berai, simpul aksara merangas, rantas

Sepotong daging penuh ulir, disebut otak, panas. 

Setangkai bunga bernama mimpi, harum mewangi, layu dan mati. 


Cangkeman 3#

Aku menyeretmu paksa

Dalam pisah yang resah

mengingin satu dan padu

Aku mengikatmu kencang

Dalam ikhlas yang tak terpulas

Mengingin kau dan aku mati tapi kita abadi

Aku menampar sampai terbakar

Tapi kau bergeming,

Ragamu tak tergapai, jiwamu telah damai

Kau moksa, aku merana


Cangkeman 5#

Untuk apa menulis tesis

Kalau rindu tak terkikis

Untuk apa menulis skripsi

Jika engkau berpaling hati

Untuk apa mengirim jurnal

Bila Aku selalu kau anggap banal

Mari beramai dalam cangkeman

Aku merutuki kau dengan desah

Kau menghakimi aku dengan basah

Kita memaku bibir, ciuman


Cangkeman #5
Hari ini aku meneguk kolak tetapi manisnya hilang. Setelahnya aku menyuap semangkuk gulai dan mengerat setusuk satai tapi gurihnya hilang. Aku mencoba kembali makan dengan cocolan sambal pada tempe tapi pedasnya hilang. Kukira aku sakit tifus, ternyata rasaku pergi dibawa kamu. 


Cangkeman #6

Kopi di gelas aku lewatkan tanpa cengkerama. 

Dan denting sendok tak berharmoni tanpa kata-kata

Gula luput menghadirkan manis yang dibawa oleh mu separuh

Sedang pahit terasa penuh, lebih dari bubuk hitam yang kini luruh

Menantimu adalah bayang yang ingin menggapai tangan

Sebuah harap didasar jurang senyap

Tempat telinga tuli membaca bibir tanpa suara

Penantian yang diam, pada nihil yang tak kemana

(Berbah, Mei 2019)

*Penulis : Muhammad Lutfi Imama saat ini sedang menempuh pendidikan di S2 Magister Pendidikan Bahasa Inggris UNY. Lutfi dapat disapa di akun IG : @20_luth

No comments:

Powered by Blogger.