Hikayat Ine Pare

Penulis : Achmad FH Fajar
Di Ndota, rumahmu, seribu tahun lamanya
tubuhmu terkubur jadi humus, pupuk tanah,
serta makanan cacing gunung. Darahmu mengalir
ke sungai, membasahi ladang dan sawah,
menyuburkan tanaman. Kisahmu diperabukan

lalu mengawang di udara. Tiap luka yang kau terima
dipujakan mantra untuk menutupi kebohongan,
kilat mata parang, kelemahan untuk berkehendak, dan
semua omong kosong tentang-Nya: Dua Lulu Wula
dan Nggae Wena Tana. Mereka berkata,

“Kami hidangkan sesaji ini: daging, arak,
dan nasi untuk menggantikan tubuhmu.”

Tapi, aku menolaknya seperti saat aku membuang
nubuat, mengenyahkan syair masa silam, sebab tak
kutemukan kebenaran pada lembaran-lembaran kusam
yang membusuk dimakan kala. Sejarah adalah ingatan
tentang luka dan darah. Aku menolaknya, sebab

akulah perempuan itu. Perempuan yang meniti jalan,
kisah, dan luka yang sama seperti kau menanggung
derita dan duka yang dilimpahkan di pundak kecilmu.
Aku anak rahim adat yang ingkar dari tubuh, sebab
tak kutemukan kedamaian pada ceruk ruangnya.

Tapi, milikmu, sawah darah itu,
warisan yang dikekalkan oleh ingatan:
tubuhmu dicincang, dihamburkan
jadi padi, jadi panganan kaum kerabat,

ialah laku yang tak dapat kusalahkan atau kutiru
dengan semua perwujudan puisi. Seumpama kisah,
kau, dengan tubuh koyak dan darah yang menyembur
dari tiap sayatan otot-dagingmu, telah jadi mimpi
yang menemaniku saat aku tertidur atau terjaga.

Ya, kisahmu yang dikubur bersama tipu daya
dan puja-puji magis mungkin hanya mimpi
tapi mimpi itu memberiku keberanian
untuk menerima atau menolaknya.

O, Ine,
di tubuhku,
akulah empunya.

(Jogja, Juli 2018)
Catatan:
1. Dalam bahasa Indonesia, “Ine Pare” berarti Ibu Padi. Dikisahkan dalam mitos Suku Lio (di Flores, NTT), Ine Pare adalah perempuan yang dikorbankan dengan cara tubuhnya dicincang untuk kesuburan tanah dan keberhasilan panen padi. Ine Pare bisa dikatakan sebagai bentuk asli keyakinan atau pemujaan masyarakat Nusantara sebelum terpengaruh Hindu-Buddha. Mitos Ine Pare menarasikan evolusi kehidupan manusia, dari pengumpulan makanan ke bercocok tanam, dari corak berkelana ke corak menetap.

2. Versi Bahasa Lio ialah Keli Ndota (versi syair-syair Krowe Sika menyebutnya Dota Keling) atau Gunung Ndota. Bagi masyarakat Lio, Keli Ndota dipercaya sebagai tempat angker sekaligus sakral karena di sanalah tempat pengorbanan Ine Pare.

3. Dua Lulu Wula dan Nggae Wena Tana merupakan penjelmaan Dua Nggae, sebutan Tuhan bagi Komunitas Lio. Nama itu bersifat dualistik yang terdapat pada Dua Lulu Wula (Penguasa Langit) dan Nggae Wena Tana (Penguasa Bumi). Sifat mendua itu juga berkaitan dengan prinsip lelaki dan prinsip perempuan sebagai sumber yang menghasilkan atau melahirkan kehidupan baru. Itu tampak pada penjelmaan Dua Nggae dan cara mempersembahkan sesaji. Dualisme prinsip lelaki dan prinsip perempuan juga hadir dalam bentuk lain, seperti padi jantan dan padi betina serta Nalu Pare dan Pretan Epan, pada syair-syair Ine Pare yang tersebar di Flores Bagian Tengah sampai Flores Bagian Timur. Setelah Katolik masuk Flores, atau Nusa Tenggara Timur (NTT) secara umum, prinsip dualisme Dua Nggae diubah berdasarkan pemahaman monoteisme Kristen.

*Penulis Achmad FH Fajar Alien Krypton yang cinta dengan bumi. Ambisius dalam proses menulis kreatif tapi minim prestasi dan publikasi. Beberapa tulisan (opini & resensi) cuma dimuat di media-media kacangan, seperti Bernas (versi cetak), Koran Jakarta, dan Indoprogress. Puisinya "Hikayat Ine Pare" pun cuma diganjar 10 Puisi Terbaik di Lomba Cipta Puisi bertajuk "Festival Mewarnai Wakatobi 2018". Puisi yang lain hanya dua kali dimuat antologi, antologi puisi siswa SMA se-Jawa Timur dan antologi Puisi mahasiswa Sastra Indonesia oleh IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia).

No comments:

Powered by Blogger.