Membaca Kesedihan Shula : Gadis Kecil Yang Dirampas Kemerdekaanya (Resensi Film I Am Not A Witch)

Penulis : Ayun
Sebuah bus membawa rombongan wisatawan menuju tempat wisata. Tempat tersebut merupakan kamp khusus para dukun di bagian utara Ghana yang dibuat oleh pemerintah setempat. Tidak ada harapan, mimpi dan perlawanan dalam kamp yang seolah menyerupai penjara itu.

Kita akan lebih banyak menyaksikan kesunyian dan derita di dalamnya. Sebuah kamp fiktif yang sengaja di buat oleh sutradara perempuan Rungano Nyoni untuk menggambarkan keadaan di Zambia.

I Am Not A Witch adalah sebuah film yang bercerita tentang anak kecil seorang yatim piatu bernama Shula yang diperankan oleh Maggie Mulubwa. Ia dituduh sebagai seorang penyihir dan membawa kesialan oleh warga sekitar di Zambia.

Akibat dari tuduhan tersebut, Shula dikirim ke kamp tempat para dukun yang bernasib sama dengannya. Di sana ia mendapatkan keluarga baru, bertemu dengan perempuan-perempuan renta yang menggantungkan hidupnya antara dua pilihan: hidup untuk bergerak atau diam untuk mati.

Orang-orang yang berada dalam kamp tersebut melakukan kegiatan yang menguntungkan pemerintah semata. Dimana mereka dipekerjakan untuk bercocok tanam di lahan yang sudah disediakan oleh pemerintah. Selain memanfaatkan tenaga-tenaganya, mereka juga dijadikan objek wisata bagi para wisatwan kulit putih yang suka berfotoria.

Tentu fenomena ini tidak hanya kita temukan di Zambia, di negeri sendiripun demikan. Bagaimana orang-orang kota luar ketika bertandang ke suatu daerah dan melihat orang-orang yang dirasanya cukup aneh dan berbeda dengannya, tanpa segan ia memotret atau hanya berselfie untuk kemudian diupload menjadi pemanis di lini media sosialnya.

Shula, hadir sebagai gadis kecil yang pendiam, dengan raut muka yang menyimpan sendu. Tidak ada tawa dalam wajahnya kecuali sesekali ketika ia mendengar suara anak-anak seusianya yang sedang di duduk di bangku sekolah. Itupun hanya melalui corong plastik yang diberikan kepadanya.

Sebagai seorang penyihir kecil yang sudah tergabung dengan para dukun di kamp tersebut, Shula ikut melakukan pekerjaan-pkerjaan yang dilakukan oleh perempuan-perempuan renta disana.

Mereka yang hidup dalam kamp, ruang geraknya selalu diawasi dan terbatas. Sang Sutradara memilih untuk menggunakan tali putih seperti pita untuk menjadi simbol yang membatasi ruang gerak orang-orang yang dianggap menjadi penyihir.

Penggunaan tali yang berbentuk pita tersebut tidak lain agar mudah dikontrol dan diawasi oleh penguasa. Ya di kehidupan nyatapun seperti itu. Ada yang membatasi ruang dan gerak sehingga orang-orang yang takut bungkam untuk bersuara. 

Begitulah kira-kira gambaran masyarakat yang dikendalikan. Shula yang selalu kemana-kemana diikuti oleh tali putih di punggungnya. Tidak bebas bergerak dan melakukan segala aktivitas yang diinginkan.

Dalam beberapa kesempatan, Shula diperkenalkan oleh Mr. Banda yang menjabat sebagai salah satu pelayan pemerintah di Zambia. Mr.Banda diperankan oleh Henry BJ Phiri. Shula dipaksa untuk menjadi penentu keputusan dalam beberapa kasus yang terjadi.

Seperti kasus pencurian yang dilakukan oleh warga. Ia disuruh untuk menunjuk pelaku yang melakukan tindak kriminal. Dengan dibekali ilmu yang sudah sedikit diajarkan oleh orang yang menyayanginya di kamp dukun, Shula mampu menunjuk pelaku-pelaku yang melakukan tindak kejahatan dengan tepat.

Di lain kesempatan, Shula dibawa oleh Banda ke stasiun televisi untuk memperlihatkan kehebatan sihir yang dimiliki Shula. Akan tetapi, hal tersebut semata-mata demi keuntungan Banda. Sebagai anak kecil yang mempunyai hak dasar untuk bersekolah dan mendapatkan kebebasan, dalam film ini, Mr.Banda sama sekali tidak memberikan hak tersebut kepada Shula. 

Sebagai penonton, saya melihat kasus bagaimana seorang Banda memanfaatkan anak kecil untuk dieksploitasi demi kemajuan karirnya sebagai pelayan pemerintah. Selain itu, gadis kecil bernama Shula juga dipaksa untuk mampu menurunkan hujan di daerah tersebut yang sedang mengalami kekeringan.

Beberapa menit terakhir dalam film ini, kita akan melihat perlawanan-perlawanan kecil yang dilakukan oleh Shula. Seperti sedikit acuh terhadap beberapa perintah yang diberikan oleh Banda kepadanya.

Kalau saja Shula mempunyai sekelompok teman seusianya yang bernasib sama, barangkali kita sudah mendapatinya membentuk gerakan yang melawan rezim pemerintah tersebut. Tapi amat disayangkan Shula hadir di tengah-tengah perempuan renta yang banyak menyimpan luka karena terasingkan.

Shula ketika dipaksa untuk menurunkan hujan, ia seperti tidak berdaya. Ia sempat melakukan tarian-tarian di tengah lahan pisang yang gersang. Untuk meminta didatangkan hujan, namun celakanya ia mendapati dirinya pingsan karena kelelahan.

Setelah melakukan ritual berupa tarian tersebut, sama sekali tidak ada hujan yang turun. Karena dalam diri Shula ia menganggap dirinya sama seperti yang lain, manusia biasa yang butuh kebebasan dan mendapatkan haknya.

Karena Shula terlahir sebagai yatim piatu dan terjebak pada anggapan masyarakat yang kolot akhirnya gadis kecil bernama Shula hadir sebagai korban ketidaktahuan manusia.

Anggapan menjadi seorang penyihir adalah sebuah kebodohan di zaman modern seperti saat ini. “Aku lebih baik menjadi kambing karena kambing bisa bergerak bebas dan makan apapun yang dia mau”. Kalimat terakhir yang diucapkan Shula sebelum memotong tali putih yang selalu membatasi gerak geriknya.

Pada keesokan harinya Shula sudah ditemukan tak bernyawa. Sebuah perlawanan yang sangat luar biasa bagi anak seusia Shula. Dalam waktu yang bersamaan, ketika para perempuan renta yang sedang menangisi kepergian Shula, hujan datang secara tiba-tiba.

Kerja keras dari sang sutradara Rungano Nyoni yang memilih tinggal selama satu bulan penuh di kamp dukun yang berusia 200 tahun di Ghana. Membuahkan hasil karena film ini berhasil melanglang buana ke berbagai macam film festival termasuk Cannes.

*Penulis Ayun sesekali dua pernah muncul di group WA Frame Nine films, tertarik dengan isu perempuan dan menjadi anggota Srikandi Lintas Iman. Ayun dapat disapa di akun IG @ayun_425

No comments:

Powered by Blogger.