Mengilmui (Kembali) Puasa Ramadan

Penulis : Husni Mubarok
Puasa Ramadan merupakan madrasah umat Islam untuk memgembleng ketakwaan. Selain membina kesalehan individu, puasa merupakan madrasah kesalehan sosial.

Orang berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan hawa nafsu. Dari ibadah puasa ini diharapkan melahirkan manusia yang bertakwaan dan kembali pada fitrahnya sebagai hamba Allah SWT.

Ajaran puasa sudah ada sejak nabi dan rosul sebelum Muhammad SAW. Sebut saja Nabi Duad AS dengan puasa Daud, sehari berpuasa dan sehari tidak sepanjang hidupnya. 

Selain melatih rohani agar mampu menahan nafsu, banyak penelitian menyebutkan bahwa berpuasa juga bermanfaat untuk kesehatan. Puasa sebagai bentuk ritual ibadah jasmani dan rohani, menahan dan mengendalikan hawa nafsu. 

Ibadah ini melatih kesalehan individu dan kesalehan sosial. Banyak tulisan dan buku diterbitkan yang membahasnya. Seiring berkembangnya zaman, penyambutan Ramadan sebagai bulan suci sering dilalaikan dengan euphoria berlebihan. Alih-alih menggembirakan ibadah, tingkat konsumsi justru meningkat saat bulan puasa.

Sadar atau tidak, fenomena meningkatnya jumlah kelas menengah Muslim berhubungan erat dengan perilaku konsumtif di bulan Ramadan. Hal ini justru bertolak belakang dengan tujuan puasa sendiri, yakni menahan hawa nafsu. Seorang yang berpuasa dan mengilmuinya akan meluangkan waktu lebih banyak untuk melakukan perenungan spiritual dan intropeksi diri. 

Bahwa puasa merupakan komitmen keimanan, pengilmuan, pengamalan sekaligus dakwah dan kesabaran menjadi seorang Muslim yang telah mengucapkan dua kalimat persaksian (Syahadatain).

Ketika seorang menyatakan dua kalimat persaksian (Syahadatain), ia mempunyai lima komitmen yang wajib dan melekat. Endang Saifudin Anshari menulis dengan apik lima komitmen tersebut dalam bukunya yang berjudul “Wawasan Islam; pokok-pokok pikiran tentang paradigma dan sistem Islam”. 

Pertama adalah mengimani Islam, yakni setiap Muslim meyakini kesempurnaan Islam sebagai ajaran universal dan eternal yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, alam, serta sesama manusia. Setelah itu, mereka istiqamah/ konsisten dalam iman keyakinannya serta senantiasa berusaha untuk memelihara dan meningkatkan mutu iman keyakinannya itu.

Komitmen kedua adalah mengilmui Islam, yakni setiap Muslim wajib memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan, mencakup pengertian, pemahaman, penghayatan, dan penguasaan mengenai Islam dari segala segi dengan kemampuannya pada setiap kesempatan terus menerus hingga ajal. 

Ilmu merupakan pondasi peradaban dan menjadi syarat mutlak sebuah kemajuan. Ilmuwan besar fisika sepanjang zaman Albert Einstein mengatakan; “ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh.” 

Ketiga, komitmen mengamalkan Islam. Setiap Muslim wajib memanfaatkan iman keyakinan dan ilmu pengetahuannya mengenai Islam dalam amal perbuatan pada pelbagai segi perikehidupan dan penghidupan sehari-hari sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Hal itu bisa dilaksanakan dengan cara merealisasikan Islam dimulai dari dalam dirinya, keluarganya, lingkungan masyarakat luas hingga negaranya. 

Hal ini termasuk dakwah dalam artian luas. Bahwa seorang disebut Muslim dalam sikap dan perilakunya sehari-hari menjadi teladan dan memberi manfaat kepada sesama seluruh makhluk hidup dan alam.

Keempat, komitmen mendakwahkan. Setiap Muslim wajib mendakwahkan Islam sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan mereka masing-masing, sesuai profesi dan dedikasi masing-masing kepada orang lain, baik sesama Muslim maupun non-Muslim. 

Islam mengajarkan sikap profesional dalam profesi atau dedikasi kerja-kerja kemanusiaan sebagai salah satu bentuk dakwah. Seorang Muslim wajib bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berkarya sesuai profesi dan pekerjaan. Sebab setiap manfaat dari karya dengan niat ibadah kepada Allah SWT adalah bentuk dakwah yang paling nyata membangun peradaban.

Kelima, sabar dalam ber-Islam. Setiap Muslim harus bersabar, tabah lahir dan batin dalam menerima segala risiko sebagai konsekuensi orang yang mengimani Islam, mengilmui, mengamalkan dan mendakwahkan Islam menghadapi segala tantangan dan halangan baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya.

Berdasarkan lima komitmen diatas jelaslah sudah tugas-tugas keilahian dan kerja kemanusiaan tidaklah dipisahkan dalam Islam. Berpuasa dalam rangka melawan hawa nafsu seharusnya mampu membuat seorang Muslim mengendalikan nafsu berbelanja barang atau kebutuhan yang berlebihan. Berbuka dan bersahur dengan makanan secukupnya, berpakaian bagus secukupnya dan bersedekah sebaik-baiknya.

Komitmen mengilmui Islam merupakan dasar kedua yang terpenting dan paling menentukan bagaimana menjalankan komiten-komitmen setelahnya. Tanpa ilmu dan pemahaman yang benar dan cukup akan mengurangi atau bahkan merusak komitmen lainnya. 

Seorang Muslim yang beriman wajib mencintai ilmu pengetahuan, gemar dengan majelis keilmuan, dan tidak kenal lelah menuntut ilmu seumur hidupnya. Seorang Muslim adalah manusia yang selalu haus ilmu pengetahuan, ia tidak memisahkan ilmu dunia dan ilmu agama. 

Ia percaya bahwa ilmu adalah cahaya yang menerangi peradaban dan kemanusiaan. Dunia adalah ladang amal, seorang Muslim membutuhkan ilmu pengetahuan yang mumpuni agar dapat menanam benih amal kemanusiaan yang memancarkan semangat kemajuan.

Akhirat adalah tujuan, maka seorang Muslim akan selalu menjaga diri dari kerusakan yang akan menghancurkan dirinya dan orang lain. Ia benci dan menghindari perilaku korupsi, curang, menebar kebencian, mengobarkan pemusuhan, merusak dan mencemari alam. Ia pribadi yang adil sejak dalam pikiran dan sadar bahwa setiap amal perbuatan akan diminta pertanggungjawaban di akhirat.

Akhir kalam, menjadi manusia takwa adalah tujuan puasa agar terpatri kuat dalam profil seorang Muslim yang ihsan. Melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT.


*Penulis Husni Mubarok mantan aktivis mahasiswa yang sekarang menjadi buruh APBN. Husni dapat disapa melalui akun IG : @ansichusni

No comments:

Powered by Blogger.