Menimbang 8 Jam Kerja (Lagi)

Penulis : Aldian AW
Kerja adalah yang membedakan manusia dengan hewan, dan dengan bekerjalah manusia mencapai kebahagiaannya begitu Karl Marx menulis tentang manusia, dalam manuskrip Filsafat dan Ekonominya yang ditulis pada tahun 1844. Hal ini juga diungkapkan oleh Paolo Freire, pakar pendidikan Brazil yang mengatakan manusia merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Manusia dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas, keterarahan, temporaritas dan transendensi) yang menjadikan mahluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk menyampaikan hubungan dengan dunia. 

Bekerja selama 8 jam per hari menjadi sesuatu yang dianggap normal untuk buruh pada abad kapitalisme. Jika melihat sejarahnya, kerja selama 8 jam adalah hasil perjuangan keringat dan darah oleh gerakan buruh dengan aksi demonstrasi di berbagai macam negara industri pada abad 18. Salah satu yang paling menentukan adalah terjadinya peristiwa Haymarket dimana buruh kota Chicago, Amerika Serikat melakukan mogok masal yang tuntutannya menentang jam kerja dengan waktu lebih dari 8 jam di seluruh sektor industri. 

Saat itu baik di kota-kota industri Eropa maupun Amerika Serikat jam kerja bagi buruh memang belum ditentukan dengan aturan yang jelas. Rata-rata buruh bekerja selama 11-16 jam di pabrik-pabrik yang baru berdiri setelah datangnya era revolusi industri. Kapitalisme yang sedang mengalami masa keemasannya saling berlomba memproduksi barang sebanyak-banyaknya untuk memperoleh keuntungan dengan memperkerjakan buruhnya selama mungkin, sehingga buruh tidak bisa melakukan kegiatan lain setelah lelah bekerja.

Demonstrasi menuntut berkurangnya jam kerja di Chicago berjalan pahit karena jatuhnya korban jiwa baik di pihak buruh maupun aparat keamananan. Ratusan orang terluka karena adanya pengeboman saat berlangsungnya demonstrasi tersebut. Namun demikian ada hasil yang dicapai dari perjuangan tersebut yaitu dikabulkannya tuntutan jam kerja buruh bekerja maksimal hanya 8 jam. Berkat kejadian ini pula Asosiasi Buruh Internasional yang dikenal juga dengan sebutan Internationale 2 menandai hari awal demonstrasi tersebut sebagai peringatan hari buruh internasional yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 1 Mei.

Salah satu tokoh yang menginspirasi waktu kerja buruh selama 8 jam adalah leaflet yang ditulis oleh Robert Owen, seorang pengusaha asal Wales dan bapak sosialisme klasik yang menelurkan slogan 8 jam kerja, 8 jam rekreasi, 8 jam istirahat pada tahun 1817. Pemikirannya berangkat dari keprihatinan melihat masyarakat Eropa pasca hadirnya revolusi mesin dipaksa menyerahkan seluruh tenaganya selama 12-15 jam sehari untuk para kapitalis.

Selama hampir 2 abad sejak lahirnya kapitalisme, bekerja selama 8 jam sehari untuk buruh dianggap waktu optimal dan belum banyak perubahan hingga saat ini. Walau demikian ada kabar menarik dari Swedia dimana ada eksperimen sosial untuk memotong jam kerja dari 8 jam menjadi 6 jam kerja saja. Percobaan ini diterapkan tidak hanya untuk perusahaan kecil saja namun juga rumah sakit Sahlgrenska di kota terbesar kedua Swedia Gothenburg dan dealer mobil Toyota di sana menurut berita yang dirilis New York Times bulan Mei tahun 2016 lalu. 

Hasil eksperimen tersebut mengejutkan, karena buruh lebih bahagia dan produktif dalam menyelesaikan pekerjaannya saat diterapkan waktu kerja 6 jam per hari. Ini ditandai dengan peningkatan produktivitas atau selesainya lebih banyak pekerjaan, buruh lebih jarang absen karena sakit di tempat kerja (karena lebih banyak waktu untuk istirahat) dan berbagi dengan keluarga. Ini tentu mematahkan asumsi yang selama ini terjadi kerja selama 8 jam adalah jam kerja yang sudah tidak dapat diubah lagi dan dianggap sesuatu yang alamiah.

Di Indonesia sendiri pengaturan tentang jam kerja diatur dalam UU Tenaga Kerja No 13 tahun 2003 pasal 77 hingga pasal 85. Di dalam Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telah disebutkan yaitu 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu atau 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu. 

Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga buruh berhak atas upah lembur. Namun demikian dimungkinkan ada beberapa pekerjaan yang dapat mempunyai jam kerja sendiri di berbagai sektor dengan perjanjian kerja bersama yang dibuat perusahaan dengan kesepakatan buruh dan disetujui oleh pejabat dari dinas tenaga kerja. 

Dalam prakteknya aturan tersebut tidak selalu seindah bunyi di dalam Undang-undang. Tidak heran jika kita banyak menemui banyak pelanggaran jam kerja dilakukan di Indonesia karena lemahnya pengawasan dan banyak terjadi pelanggaran peraturan jam kerja yang dilakukan secara sengaja maupun tidak oleh para pemilik industri.

Jika percobaan 6 jam kerja sehari bisa mulai diwacanakan atau di uji cobakan secara sosial di Indonesia tidak menutup kemungkinan manusia manusia Indonesia bisa lebih bahagia dan menjadi manusia seutuhnya meski masih hidup di bawah sistem kapitalisme modern ini. Pertanyaannya, beranikah?

No comments:

Powered by Blogger.