Pulang

Penulis : Eko Setyawan
Aku ingin kau mencintaiku dan aku pun sebaliknya. Tapi itu bukan hal mudah untuk kau lakukan. Menunggu itu semua terpenuhi sama saja mengubur diri dalam tempat yang begitu dalam. Perlu waktu untuk menemukan dasarnya. Mengorbankan segala yang kau pernah kau miliki dan segala yang pernah membahagiakanmu.

“Aku belum bisa,” elakmu ketika aku memohon. Kau mengatakannya dengan suara pelan dan pasrah.

“Kenapa?” aku menuntut. Kurasa memang ada yang salah darimu.

“Karena kau tak akan bisa seperti dirinya.”

Jangan pernah membandingkanku dengan masa lalumu. Aku sedang berusaha untuk membahagiakanmu dengan caraku sendiri. Semua yang ada telah kuberikan kepadamu. Tak lagi tersisa selain diriku yang kesepian. Tapi kau tak menerima segalanya dengan legawa. Selalu ada yang kurang dan itu membunuh segala perasaan yang telanjur kubesarkan. Apa memang seharusnya aku mengalah. Tidak mungkin. Karena bagiku mencintaimu adalah mencintai diriku sendiri dengan hati-hati. Ada yang perlu dijaga dari diriku. Seperti suasana rumah yang selalu menghantui diriku. Mengganjal jalanku untuk menatap cat rumah yang lama kutinggalkan.

Untuk sekadar pulang saja aku tak mampu. Ada yang kupertaruhkan. Sebuah harga diri yang tak akan bisa dibayar oleh siapa pun. Karena untuk pulang, aku sunggu malu. Dan untuk bertahan di sini berarti aku harus menanggung hal yang lebih berat lagi: sebuah rindu. Jelas saja, karena aku kangen dengan segala apa yang ada di rumah. Tetapi aku akan merasakan dilema yang berat ketika keluarga di rumah menanyakan sampai mana skripsiku.

Itu bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Aku tak bisa menjawab sekenanya. Terlebih ketika ibu menanyaiku dengan sebuah harapan besar. Itu yang membuatku tak sanggup untuk menghadapinya. Sebuah pandangan mata yang penuh harapan dan meminta belas kasih. Aku selalu tak kuasa menatap mata itu. Tubuhku lemas seketika dan tak berdaya.

Hal itu tak jauh berbeda ketika aku menghadapimu. Namun posisinya berubah. Berbalik aku yang menjadi ibu dan kau menjadi diriku. Perasaanku ini kuanggap sebagai perasaan ibu selama ini. Sebuah perasaan yang bergulat melawan keinginan untuk membahagiakan diri sendiri. Aku merasa berdosa untuk semua ini. Apa yang kulakukan pada ibu kini berbalik menimpaku. Berkatmu aku jadi tahu bagaimana perasaan ibu ketika sebuah harapan besar ditunggu kepastiannya untuk diwujudkan.

“Apa belum selesai juga?” tanya ibu suatu ketika. Saat itu aku pulang untuk membantu pernikahan kakakku.

Aku pulang dengan senang hati. Karena setelah kepergian bapak, tak ada yang menggantikan posisinya. Kakak perempuanku menikah. Itu artinya aku harus membantu semua keperluan. Lebih dari itu, aku juga harus menanggung kebutuhan ibu di kemudian hari. Kakak telah menjadi milik orang lain dan dalam keadaan itu pula ia harus menurut dengan kehendak suaminya. Mudahnya, kakak telah menjadi tanggung jawab orang lain dan harus memikirkannya.

Segala keperluan memang disediakan oleh pihak mempelai perempuan, mulai dari hal kecil sampai pesta penikahan. Itulah sebabnya aku pulang. Alasan utamanya memang saat itu aku memiliki kesempatan untuk bertemu ibu dan hampir semua saudara. Tapi di lain hal, memang tenaga dan pikiranku dibutuhkan agar acara yang diselenggarakan berjalan lancar.

Pertanyaan itu semula kuanggap sebagai rasa perhatian seorang ibu pada anaknya. Karena hal itu adalah lazim ditanyakan setiap ibu pada anaknya. Sebuah bentuk perhatian yang sama pada umumnya. Sama halnya perhatian ketika anaknya masih kecil dengan sebuah perhatian yang begitu besar. Mulai dari mengurusi makan, mandi, dan berpakaian. Tak ada perasaan bersalah sedikit pun saat itu.

“Apanya, Bu?” aku pura-pura tak mengerti apa yang sedang ibu bicarakan. Pertanyaan ibu begitu singkat dan tidak menyertakan lanjutan yang jelas. Tapi sebenarnya pertanyaan itu sudah kuketahui arahnya.

“Skripsimu,” lanjut ibu diikuti dengan bibir yang mengembang.

Entah apa maksud dari ekspresi ibu. Aku tidak mampu menafsirkannya. Segalanya begitu aneh bagiku. Pikiranku pun tidak mampu menjangkau apa yang diinginkan ibu. Dalam pikiranku hanya berpikir bagaimana caranya agar pernikahan kakak lancar dan ibu tidak terlalu lelah. Ibu kusarankan untuk mengurusi tamu saja. Ah bukan mengurusi tamu, tapi mendampingi kakak dan menyalami tamu. Itu sudah cukup untuk ibu. Sementara bagian belakang biar aku yang memikirkannya. Tapi senyuman itu membuatkiu berpikir hal lain.

“Belum, Bu,” jawabku datar.

“Belum apanya?”

“Belum selesai.” Kuakhiri percakapan itu dengan alasan aku harus mempersiapkan kebutuhan lain. Menemui orang-orang yang membantu kami dan aku bertanggung jawab atas pekerjaan mereka.

Itulah hal yang sampai saat ini terngiang di kepalaku. Sebuah tanggung jawab dan sebuah cara menemukan diri serta jawaban atas sebuah harapan. Ibu berharap aku segera menyelesaikan skripsiku. Menyelesaikan karena untuk dikatakan tepat waktu sudah tidak mungkin. Terlebih karena waktu kuliahku sudah molor selama beberapa waktu. Aku tak ingin menyebutkannya karena rasa maluku pada ibu.

Saat bersamamu mengingatkanku pada hal-hal yang pernah kulalui bersama pertanyaan dari ibu. Aku masih belum bisa membahagiakannya karena memang entah apa yang kurasakan dan apa yang kulakukan saat ini tidak berbanding dengan harapan ibu. Bisa dikatakan bahwa aku sekarang memang orang yang durhaka. Mengacuhkan sebuah pengharapan yang begitu besar. Mengacuhkan sebuah mimpi orang lain.

Ingatanku tentang harapan ibu selalu mengusikku. Dan kini segalanya berbalik menimpaku. Harapanku padamu terlampau besar. Aku ingin kau mencintaiku dengan sebenar-benarnya. Itu sama seperti harapan ibu padaku yang begitu tak ternilai. Lekas saja aku menyampaikan apa yang kuinginkan darimu. Itu seperti apa yang diinginkan ibu dan aku harusnya meniyakan apa yang ia minta. Tapi rasa malas dan menyiasati dengan jawaban lain selalu kupertahankan. Nahas memang. Namun aku tak bisa berbuat banyak.

Sama halnya ketika kau menolakku dan selalu menghindar ketika aku menginginkan suatu hal yang kuanggap penting. Kau menolak dengan berbagai alasan. Dan yang paling menyakitkan di antara alasan-alasan yang kau susun adalah alasan mengenai diriku yang tak mampu berbuat serupa mantak kekasihmu yang lalu.

Padahal kita sudah bersama dalam waktu yang tidak bisa dikatakan singkat. Semua sudah berjalan serupa usia pajak kendaraan. Terlampau lama. Namun kau selalu saja punya alasan. Apalagi ketika pertengkaran kecil di antara kita terjadi.

“Cukup. Kau tak akan bisa seperti ia. Kau memang pacarku, tapi tak akan bisa mengantikan ia di hatiku.” Apa yang kau katakan itu semacam busur panah yang menancap pada hewan yang berlari kencang dan tiba-tiba mengelepar karena banyaknya darah yang mengucur. Begitulah yang kurasakan.

Mungkin juga hal itu dirasakan ibu ketika aku menjawab bahwa skripsiku belum usai. Apa masalah yang sebenarnya kau hadapi. Bukankah mudah jika saja kau mencintaiku. Apa yang kurang dari segala kemudahan hubungan kita. Ah, ibu benar. Sebaiknya aku memikirkan kembali skripsiku yang terbengakalai karena memikirkanmu.

Ketika kau mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang, yang kuinginkan saat itu hanyalah pulang dan berkata pada ibu bahwa aku telah lulus dan ibu harus mendampingiku menerima bukti kelulusan di auditorium. Itu adalah bentuk penebusan dosaku. Terhadap ibu, terhadapmu, dan terhadap diriku sendiri.


* Penulis Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Literasi Kemuning, Komunitas Sastra Senjanara Surakarta. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional. Eko dapat disapa melalui akun IG : @setyawan721 atau Surel: esetyawan450@gmail.com

No comments:

Powered by Blogger.