William Kamkwamba : Buku, Sekolah dan Kedewasan Berpikir (Resensi Film The Boy Who Harnessed The Wind)

Penulis  Ayun
“Tuhan adalah angin yang menyentuh segalanya”. 

Kalimat penutup dalam film The Boy Who Harnessed The Wind. Film dengan durasi 113 menit ini membawa penontonnya untuk menemukan pengalaman inspiratif.

Berangkat dari kisah nyata yang diambil dari biografi seorang insinyur, inovator dan seorang penulis bernama William Kamkwamba yang berasal dari Malawai, Afrika bagian selatan.

Delapan belas menit awal, film ini bercerita tentang persoalan warga yang dihadapkan dengan masalah yaitu menjual tanahnya ke pihak perusahaan atau tetap mempertahankan tanahnya sebagai ladang bercocok tanam.

Kenyataan yang terjadi, hanya segelintir orang yang memilih untuk mempertahankan tanahnya dan melawan. Tanah yang tandus menjadi alasan bagi mereka sulit untuk bercocok tanam.

Padahal, akan lebih banyak permasalahan yang akan muncul termasuk kelaparan dan kemiskinan nantinya. Dan benar saja, tidak lama setelah itu warga banyak yang kelaparan dan memilih untuk meninggalkan kampung halamannya. 

Lewat olahan sutradara Chiwetel Ejifor, film ini berhasil mengantongi juara di perhelatan Internasional Sundace Film Festival 2019. Cara bertutur yang digunakan dalam film memperlihatkan konsep keluarga Kwakamba yang sangat terbuka dan berpikiran modern. 

Menonton film ini seperti berkaca pada kehidupan sekarang, hutan dibabat habis untuk membuka lahan dan hanya untuk kepentingan segelintir orang. Manusia dihadapkan dengan persoalan tunduk terhadap korporat atau melawan untuk mempertahankan haknya.

Kasus serupa merajalela, kenyataannya daerah kecil yang masih menjaga kesuburan tanahnya, juga menjadi ladang empuk bagi mereka. Ya, mereka yang mendaku diri sebagai penyelamat sekaligus penopang perekonomian rakyat  (coba tonton juga film Sexy Killers).

Film ini juga bercerita tentang sendu, perjuangan dan keberanian untuk mewujudkan sesuatu. Kwakamba dalam kehidupannya sehari-hari amat dekat dengan sahabatnya bernama Gilbert yang tidak lain adalah anak dari ketua perserikatan rakyat yang mempertahankan lahannya.

Mereka hidup di dua garis yang berbeda anatara keyakinan Muslim dan Kristen. Kita akan melihat bagaimana mereka menjaga hubungan baik yang dibangun hingga ajal menjemput.

Ketika seorang dari keluarga Trywell meninggal, semua berbondong-bondong menghadiri pemakaman. Begitupun saat Ayah Gilbert meninggal, akibat dipukuli oleh rezim pemerintahan yang tidak terima dengan sambutan yang dianggap sebuah provokasi. 

Setiap duka kematian yang terjadi di Malawi, ada sekelompok orang yang datang dengan pakaian unik dilengkapi alat musik tradisional. Mereka menari sambil bernyanyi dalam bahasa Malawi, seolah berupaya mengusir luka dan duka yang bagi keluarga yang ditinggalkan. Simbol yang dalam untuk dimaknai oleh para penontonnya. 

Cerita dimulai ketika perusahaan swasta berpindah ke daerah bagian selatan Afrika untuk menanam tembakau, sulit bagi warga Malawi untuk bersaing. Perusahaan tersebut akan mencabuti pohon-pohon di sekitarnya untuk mengeringkan daun tembakau mereka.

Dengan demikian bencana alampun tak terelakkan. Zambia adalah salah satu daerah yang berdekatan dengan Malawi menjadi korban bencana alam banjir akibat penggundulan hutan.

Walaupun krisis kota sedang terjadi dan mengakibatkan perselisihan antara warga dengan pemerintah semakin carut marut. Film ini diperankan oleh Maxwell Simba pendatang baru di dunia hiburan yang masih berumur 13 tahun. 

Ejifor sang sutradara hadir sebagai seorang ayah yang idealis berperan sebagai Trywell di dalam filmnya. Ia menentang perusakan alam dan memilih untuk menjadi petani sejati demi menyekolahkan sang anak William Kamkwamba yang diperankan oleh Maxwell Simba.

Bagi Trywell dan istrinya, pendidikan untuk anak-anaknya merupakan bagian terpenting dalam hidup mereka. Kesulitan ekonomi yang dihadapi tidak lantas membuat isterinya pantang menyerah dan terus memberikan dukungan terhadap suaminya untuk bersama-sama menyekolahkan anaknya.

Beberapa keputusan yang diambil dalam keluarga selalu menggunakan sistem demokrasi. Semua berhak mengeluarkan pendapat lengkap dengan alasannya. Termasuk kakak perempuan Kamkawmba yang berkeras ingin melanjutkan kuliah di universitas.

Kamkwamba adalah anak laki-laki berusia remaja yang lahir dari keluarga miskin dan tidak berkecukupan. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan membantu ayahnya untuk bercocok tanam di ladang sebelum akhirnya ia dimasukkan sekolah oleh orang tuanya. 

Sesuatu yang luar biasa dan menjadi pemandangan menarik ketika Kamkawmba diberikan seragam sekolah untuk pertama kalinya. Terlihat mereka sangat menyukai pendidikan. Salah satu gimmick dalam film ini ketika orang-orang percaya bahwa usia yang pas untuk masuk sekolah saat anak-anak sudah mampu memegangi telinganya melalui atas kepala, hal ini juga terjadi di Afrika. 

Walaupun sempat tesendat hingga dikeluarkan dari sekolah lantaran tidak mampu membayar uang sekolah, Kamkawmba tetap berjuang agar dapat menuntut ilmu. Dengan keadaan yang semakin terpuruk dan situasi masyarakat yang semakin memburuk akibat kekeringan.

Bocah laki-laki berusia 13 tahun itu mengambil tindakan untuk berbuat sesuatu. Ia tidak tahan melihat penderitaan yang dialami oleh warga dan keluarganya.

Kehabisan stok makanan dan perpecahan politik yang mengakibatkan huru hara di daerahnya, membuatnya berjuang keras untuk mencapai mimpinya. Berawal dari mengumpulkan barang rongsok ia terus melakukan ekspansi agar mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarganya dan warga sekitar.

Disinilah kita melihat perjuangan orang-orang hebat seperti William Kamkwamba mulai diuji untuk melihat keteguhan hatinya dalam menuntut ilmu.

Di usia yang terbilang muda, ia mempunyai ide dan melakukan inovasi untuk membuat kincir angin dengan bantuan tenaga listrik. Ia dengan semangat mulai melakukan pencarian dan melakukan observasi melalui buku-buku usang di perpustakaan sekolahnya.

Perjuangan tersebut dibantu seorang guru yang diperankan oleh Lemogang Tsipa lelaki yang berhubungan asmara dengan kakak perempuan Kamkawmba dalam beberapa kesempatan membantunya dengan memberikan akses ke perpustakaan.

Sebagai orang yang mampu menjaga rahasia kedekatan antara kakaknya, Kamkwamba memanfaatkan momen tersebut utuk menjalankan misinya. Misi besar yang membutuhkan kepercayaan dan kerjasama dari orang-orang terdekatnya. Ia membujuk kakaknya untuk meminta dinamo sepeda yang dimiliki oleh sang guru. 

Dengan pemahaman yang dimiliki ia bertekad untuk membangun kincir angin yang akan membantu masyarakat mengairi lahan yang tandus. William Kamkwamba hadir di tengah-tengah masyarakat yang percaya tentang ritual permohonan hujan di kala kemarau panjang datang. Tentu menjadi hal yang sulit baginya dan sering tidak mendapatkan kepercayaan. 

Namun berkat konsep pemikiran keluarganya yang terbuka, membuatnya lahir dan melakukan sesuatu yang nyata jika ingin merubah sesuatu. Termasuk ketika ingin memecahkan permasalahan yang terjadi di pemukiman Malawi, saat melihat keadaan masyarakat yang mulai kelaparan dan berebut makanan hanya untuk mempertahankan nyawa. Ditambah lagi rezim pemerintahan yang tidak berpihak kepada masyarakat. 

Trywell adalah seorang yang setia dengan lahannya, memilih untuk mendukung partai oposisi. Menurutnya dengan begitu masyarakat setempat bisa sedikit terbantu. Berkat kesabaran Trywell yang juga kadang keras terhadap Kamkwamba atas misinya tidak jarang menimbulkan ketidaksetujuan.

Saat ayahnya sedang berusaha keras untuk menanam, ia dengan penuh keseriusan menjelaskan misinya untuk membangun kincir angin sehingga membantu ayahnya dan warga sekitar untuk mendapatkan air yang diambil dari sumur. Hanya saja ia membutuhkan sepeda yang dimiliki ayahnya untuk perputaran kincir angin yang akan dibuat. Namun itu semua dianggap sungguh tidak masuk akal. 

Kamkwamba seorang yang tidak pernah menyurutkan mimpinya untuk melakukan perubahan dan mendatangkan kesejahteraan di kampungnya. Kita mungkin hanya berpikir bagaiamana seorang Kamkwamba igin melakukan sesuatu seperti anak kecil yang mau membuat mainan atau sekedar memperbaiki radio.

Padahal siapa yang tahu, ternyata perubahan dan nasib baik itu bisa datang dari siapa saja tanpa memandang usia. Asal punya ilmu, kegigihan dan berani untuk mencoba tanpa takut gagal adalah orang-orang yang patut di acungi jempol. 

Hal demikian mungkin akan terlihat jarang kita temukan di daerah-daerah khususnya yang sebagian besar warganya menggarap ladang. Anak-anak muda untuk bertani saja sudah enggan bagaimana dengan penciptaan teknologi baru yang mampu membantu meningkatkan kualitas pertanian di daerahnya.

William Kamkwamba adalah potret anak muda yang dengan segala keterbatsannya mampu menembus batas yang tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang sekelilingnya. 

Berkat bantuan dan dan dukungan yang diberikan oleh banyak pihak termasuk sahabat dan warga setempat ia berhasil membuat kincir angin. Terlebih dengan bantuan ibunya, Kamkwamba berhasil mengalahkan ego sang ayah. “saya tidak mau kehilangan lagi, setiap aku mengikutimu aku selalu kehilangan, orang tuaku, sekarang lahan dan anakku”. Kalimat yang diucapkan oleh sang Ibu kepada Trywell.

Dari sana Trywell berubah pikiran dan menyerahkan sepeda satu-satunya yang dimiliki untuk dikorbankan dan dijadikan kincir angin.

Akhirnya perubahan mulai datang, ia mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa dan bisa menopang kehidupan masyarakat di Malawi untuk tetap bercocok tanam. Tidak lama setelah itu, William Kamkwamba mendapatkan besiswa untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat. 

Di kehidupan nyata, William Kamkwamba menerima beasiswa dan belajar di Darmouth College dan telah menerima gelar sarajana pada tahun 2014. Dilansir dari Bustle salah satu website internasional menyebutkan bahwa William Kamkwamba setelah lulus terus mengembangkan inovasinya untuk membantu masyarakat setempat. Ia membangun ruang belajar dengan bantuan panel surya sehingga memudahkan untuk anak-anak belajar hingga larut malam.

Selain itu ia juga mengembangkan kreasi biogas yang menghasilkan gas dari kotoran sapi. Terlepas dari itu inovasi lain yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan media film sebagai media alternatif untuk mencari orang baru dalam mengembangkan misinya. Moving Windmills adalah nama LSM yang digunakan untuk menginspirasi para penemu-penemu baru di belahan dunia manapun. 

“Kita pernah memiliki negara yang indah, yang tak akan pernah dilihat oleh putraku”. Betapa narasi tersebut menunjukkan, dulu pada masanya warga Malawi mendapati daerahnya subur dan banyak ditanami pepohonan.

Dari hal tersebut kita bisa berkaca dengan masyarakat Lombok misalnya. Dilansir dari laman resmi mongabay.co.id Lombok merupakan salah satu produsen terbesar tembakau Indonesia setelah pulau Jawa. Adapun sekitar 500.000 lebih perkebunan tembakau menyebar di seluruh Indonesia. Angka tersebut menempatkan Indonesia menjadi pemasok terbesar tembakau kelima di dunia. 

Mayoritas masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat menjadi petani tembakau dan perusahaan-perusahaan rokok besar juga membangun gudang di daerah tersebut. Petani tembakau sehabis panen mendapatkan hasil yang berkecukupan, namun tidak sebanding dengan yang dihasilkan oleh perusahaan rokok raksasa tersebut.

Realitas yang terjadi di Lombok, hampir mirip dengan kasus yang terjadi di Malawi, Afrika bagian selatan. Bencana alam termasuk banjir dan gempa bumi beberapa kali bertandang ke beberapa daerah Gumi Paer-Lombok seperti di Malawi.

Semoga insinyur-insinyur muda seperti Kamkwamba lahir dari plosok negeri, melawan rezim dan menyelamatkan alam dari penebangan secara liar. Termasuk di Tanah Gumi Sasak.


*Penulis Ayun sesekali dua pernah muncul di group WA Frame Nine films, tertarik dengan isu perempuan dan menjadi anggota Srikandi Lintas Iman. Ayun dapat disapa di akun IG @ayun_425

No comments:

Powered by Blogger.