Ki Ageng Sela Dan Politik Kita Dewasa Ini

Penulis : Fachri Sakti N
Jengah, adalah kata yang tepat untuk mewakili perasaan penulis melihat kondisi politik dan sosial Indonesia beberapa tahun ini. Sebagaimana kita rasakan bersama, kondisi perpolitikan di Indonesia jauh dari substansi. Yang dipertontonkan oleh elite politik kita justru tindakan-tindakan bodoh, omong kosong dan sebagian di antaranya adalah hoaks.

Kebodohan mereka adalah masalah besar. Karena bagaimanapun juga mereka adalah tokoh yang menjadi panutan kader-kader dan pendukungnya. Jika mereka melontarkan pernyataan bodoh dan hoaks di depan publik, tak mustahil para pendukungnya yang fanatik akan mengamini dan mengimani serta menyebarkan kebodohan dan hoaks tersebut.

Fanatisme yang bertemu dengan kebodohan ibarat api yang bertemu minyak. Menyebar dan membakar tanpa pikir panjang. Bayangkan betapa bahayanya jika kebodohan dan hoaks tersebut tersebar dan dianggap sebagai kebenaran.

Faktanya hari ini, 'api' kebodohan tersebut memang telah bertemu 'minyaknya' alias terlanjur merebak dan mewabah. Hingga akhirnya banyak pihak yang melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum karena kebodohan yang mereka yakini selama ini.

Coba pembaca hitung, berapa banyak orang yang saat ini bermasalah dengan hukum karena melakukan tindakan bodoh atas nama membela pilihan politik? Banyak bukan? Dari kubu posisi maupun oposisi, semua ada daftarnya. Kondisi kacau ini mengingatkan penulis tentang kisah Ki Ageng Sela sang penangkap petir.

Penulis bukan ahli petir, tapi secara sederhana dapat dijelaskan bahwa petir terjadi karena adanya perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Singkatnya, dampak dari perbedaan tersebut kemudian dilepaskan menjadi petir yang menyambar. Saat terjadi badai petir, kilatan-kilatannya menyambar ke berbagai arah yang memiliki potensi perbedaan yang tinggi, termasuk ke bumi. Imbasnya, tak jarang manusia yang menjadi korbannya, tersambar petir.

Menurut legenda yang berkembang, Ki Ageng Sela adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi yang mampu menangkap petir. Dikisahkan, di Desa Tawang, Purwodadi, tempat tinggal Ki Ageng Sela, petir menyambar-nyambar para petani yang sedang mencangkul di sawah. Banyak petani yang lari tunggang-langgang karena takut tersambar petir tersebut. Namun Ki Ageng Sela yang saat itu juga berada di sawah tak ikut panik. Ia justru berhasil menangkap petir yang hendak menyambarnya. 

Petir itu kemudian diikat ke pohon gandrik. Keesokan harinya, petir tersebut dibawa ke hadapan Sultan Trenggono, Raja Demak kala itu. Kisah Ki Ageng Sela yang mampu menangkap petir ini kemudian diabadikan dalam ukiran kayu pintu masuk Masjid Agung Demak.

Lantas apa hubungannya antara kekacauan panggung politik negeri ini dengan kisah Ki Ageng Sela? Coba kita bayangkan, bagaimana jika sebenarnya, Ki Ageng Sela tidak benar-benar menangkap petir, melainkan menangkap para politisi-politisi yang kebodohan dan hoaksnya menyambar ke mana-mana.

Ki Ageng Sela bukan orang sembarangan. Ia adalah keturunan langsung Raja Majapahit, Brawijaya V. Di Desa Tawang, ia memiliki padepokan yang dihuni oleh orang-orang cerdas dan linuwih, sebut saja, Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya, Ki Panjawi, Ki Juru Martani dan lain sebagainya.

Kesemuanya yang disebut di atas adalah keluarga sekaligus murid Ki Ageng Sela. Selepas dari padepokan Ki Ageng Sela mereka yang menjadi penguasa Jawa, yakni menjadi Raja di Pajang, Mataram hingga kini berlanjut ke dinasti keraton besar di Surakarta dan Yogyakarta.

Jika padepokan Ki Ageng Sela mampu melahirkan negarawan-negarawan hebat di atas, dapat kita bayangkan, apakah Ki Ageng Sela hanya mengajarkan ilmu menangkap petir kepada mereka? Tentu saja tidak. Pajang dan Mataram tak akan menjadi besar jika dipimpin oleh Raja yang cuma jago menangkap petir. Dibutuhkan ahli tata negara, hukum, ilmu politik, ekonomi, pendidikan, militer dan budayawan untuk membangun sebuah kerajaan yang besar.

Penulis meyakini, bahwa pembelajaran mengenai ilmu tata negara, hukum, ilmu politik dll di atas telah dilakukan di padepokan Ki Ageng Sela. Sehingga mungkin saja, legenda Ki Ageng Sela menangkap petir adalah kisah kiasan dari strategi politik Ki Ageng Sela pada masa itu untuk mengatasi huru-hara politik di Kerajaan Demak.

Dan, jika itu benar-benar terjadi, bukankah kisah Ki Ageng Sela jadi kian heroik dan menginspirasi?

No comments:

Powered by Blogger.