Mendiskusikan Kembali Identitas Muslim

Penulis : Romadhon
Menjadi seorang Muslim menjaga identitas keislamannya tentu sangat penting apalagi ditengah pergaulan yang semakin menggoda ini. Lantas bagaimanakah identitas Muslim hari ini menjadi tema yang menarik untuk didiskusikan kembali. 

Berbicara soal identitas saya tertarik dengan buku dari Ariel Heryanto dengan judul Identitas dan Kenikmatan. Ariel Heryanto dalam penelitiannya menemukan fenomena baru yang terjadi pada umat Muslim kelas menengah di Indonesia sebagai generasi baru dengan cara pandang berbeda dengan pemikiran kelompok Muslim terdahulu . 

Kelompok Muslim yang baru ini cenderung berusia muda, mereka berhasrat mendefinisikan ulang arti menjadi Muslim yang berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan pandangan pendahulu mereka yang secara latar pendidikan agama dan kedalaman keagamaannya diakui. 

Kaum Muslim muda ini berusaha untuk berpartisipasi secara penuh di dunia modern. Dalam konteks ini term modern digunakan untuk membedakan dengan pemikiran, praktik sosial, ataupun gaya hidup yang tradisional tanpa melepaskan keimanan mereka (setidaknya secara atributnya). Yang lebih menarik antara modernitas dan agama ternyata tidak saling meniadakan satu sama lain, sebagaimana anggapan banyak orang. 

Tidak seperti pandangan yang lebih tradisional yang mempertentangkan antara ketakwaan dengan kesenangan (hiburan). Mereka juga mengajukan penolakan terhadap kecenderungan Islam yang ekslusif, kelompok-kelompok yang condong pada kekerasan dan dinamika Islamisasi yang rumit. 

Pergeseran ini tidak terlepas dari ekspansi budaya massa yang didukung oleh perkembangan teknologi mutakhir terutama media digital yang memungkinkan arus budaya populer semakin menjamur. Istilah budaya populer bisa kita pahami sebagai suara, gambar, dan pesan yang diproduksi secara massal dan komersial (termasuk film, musik, busana, dan acara televisi) serta praktik pemaknaan terkait, yang berupaya menjangkau sebanyak mungkin konsumen, terutama sebagai hiburan. (Ariel Heryanto, 22 : 2015). 

Penggunaan jilbab mungkin tidak bermakna politis untuk sekarang dibandingkan era Orde Baru, ketika memakai jilbab adalah sesuatu tidak populer. Jilbab dalam fenomena budaya populer lebih bermakna banyak disukai orang, ini juga menjawab mengapa industri busana Muslim begitu berjaya dan menjadi fenomena baru : menjadi Muslim taat sekaligus tetap menikmati kenikmatan dalam modernitas. 

Kemunculan budaya populer Islam pasca reformasi mungkin bisa diihat dengan sukses besar film Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Film ini dinilai sebagai kebangkitan generasi baru Muslim terdidik di Indonesia. Menjadi Muslim digambarkan seperti Fachri sang tokoh tokoh utamanya, menggunakan pakaian bergaya Barat dengan potongan rambut yang keren. Wajahnya yang rapi tanpa jenggot, dan dalam pesta pernikahannya memakai setelan jas mode barat dan dasi lebih mirip film-film Bolywood. 

Kecenderungan ini yang dilihat Ariel Heryanto sebagai budaya populer Islam. Ia menggambarkan fenomena ini sebagai kasus ketakwaan post-Islamis, istilah yang diperkenalkan oleh Assef Bayat tentang post-Islamisme. 

Fenomena ini kemudian melahirkan pendakwah selebriti semacam AA Gym, Jeffry-Al Buchory dan Muhammad Arifin Ilham. Pendakwah-pendakwah baru ini dengan sengaja mengincar kaum muda dan perempuan di kelompok elit, mengantarkan pesan-pesan ke depan pintu rumah mereka, ke dalam kenyamanan rumah mereka, ke klub-klub mereka, ke masjid-masjid, dan lingkungan tempat tinggal mereka yang mewah. 

Pendakwah baru ini merupakan makhluk bentukan mutakhir. Modal utama mereka adalah keterampilan komunikasi yang hebat, keunggulan dalam berbicara di depan umum dan penggunaan media baru untuk berdakwah. Pendakwah baru ini bicara secara semangat menggunakan bahasa sehari-hari, sederhana dan menarik terkadang dengan humor dan lawakan yang mengejek diri sendiri untuk menawarkan nasihat-nasihat pendek dan praktis untuk menjawab pesoalan sehari-hari yang dihadapi pendengarnya. 

Kesenangan, kenikmatan dan kebutuhan palsu yang didukung oleh teknologi canggih dalam wujud budaya populer, telah menciptakan apa yang disebut masyarakat yang diam, Herbert Marcuse menyebutnya manusia berdimensi tunggal, dimana masyarakat justru mengafirmasi dan kehilangan daya kritisnya. 

Bentuk dominasi ini secara kultural menempatkan manusia sebagai objek industri kapitalis. Dalam ketertindasan ini pertentangan bukan lagi antara borjuis dan proletariat seperti kata Marx, dalam kapitalisme lanjut semua itu telah melebur menjadi satu yaitu sama-sama tertindas oleh sistem. 

Industri kapitalis seakan tidak menemukan lubang sekecilpun dalam melihat potensi yang bisa diuangkan,bahkan agama yang dianggap sakral telah diterabas tanpa ampun. Saya yakin pertanyaan ini juga tidak gampang untuk dijawab. Inilah tugas penting para umat muslim untuk segera ditanggapi. 

Mempertanyakan identitas menjadi Muslim di tengah ekspansi kapitalisme global memang menarik untuk direfleksikan, bagaimana kemudian agama mampu menjawab tantangan ini? Pertanyaan yang cepat atau lambat harus mendapatkan tempat untuk kita diskusikan. 

*Romadhon mahasiswa Fakultas Hukum UNS yang aktif berorganisasi di HMI Cabang Surakarta. Romadhon dapat disapa di akun IG nya @romadhon

No comments:

Powered by Blogger.