Konsep Kepemimpinan Profetik Regenerasi Di Indonesia

Penulis : Zuhal Qalbu
Konsep kepemimpinan regenerasi yang dikisahkan dalam Thalut, Daud dan Sulaiman merupakan sebuah tahapan dalam membangun sebuah Imagine Community. Seperti yang telah diketahui bahwa Thalut merupakan seorang pembebas dari sebuah belenggu yang tujuannya menentukan ke arah mana kolektif yang baru merdeka. 

Berbagai kepentingan tentunya hadir dalam kondisi seperti ini karena setiap individu maupun kelompok tentu membawa idealismenya masing-masing. Saat kondisi seperti ini tentunya membutuhkan seseorang yang menjadi penengah di antara berbagai macam wacana yang berkembang di ruang publik. 

Perannya selain sebagai perumus win- win solution juga sebagai solidarity maker, karena dalam membangun sebuah aksi kolektif poin yang harus dijadikan prioritas utama ada 2 hal yaitu, konsolidasi dan koordinasi. Konsolidasi dapat terwujud untuk membangun kedekatan antar individu atau kelompok yang bertujuan membangun iklim kekeluargaan sedangkan koordinasi terkait dengan kerja-kerja intelektual dalam bentuk desentralisasi tugas sehingga apa yang sudah direncanakan dapat terealisasi dengan baik.

Letak peran penyatu inilah yang dilakukan Daud semasa itu. Selanjutnya setelah kondisi kolektif tersebut dikatakan stabil mulai dari hukum, ekonomi dan mendapatkan pengakuan oleh kolektif yang lain maka dibutuhkan seorang pemakmur seperti Sulaiman untuk membawa sebuah kolektif ke tujuan yang sudah dicitakan. 

Manusia pada dasarnya nisbi atau terbatas. Keterbatasan ini berdasarkan pada ruang dan waktu yang terkadang harus banyak melewati banyak hambatan seperti, kemiskinan, kebodohan bahkan kematian. Ketika manusia dihadapkan pada kondisi tersebut, secara otomatis manusia akan melakukan sebuah tindakan bisa berupa bekerja, sekolah atau menjalani hidup. Siklus ini terus menerus berjalan hingga manusia menemui fase Homo Deus, dimana kekuatan utama evolusi atau seleksi alam akan digantikan oleh teknologi baru tingkat dewa seperti kecerdasan buatan dan rekayasa genetika.

Indonesia menurut penulis merupakan sebuah Imagine Comunity yang didirikan atas dasar konsep kepemimpinan profetik regenerasi. Mengapa dapat disebut demikian? karena Indonesia sebagai sebuah bangsa tidak tiba-tiba muncul merdeka dari penjajahan namun lahir dari sebuah sistem campuran antara feodalisme dengan kolonialisme tumbuh subur dan hidup dalam Nusantara selama kurang lebih 300 tahun. 

Kesadaran akan kebutuhan untuk merdeka sebagai sebuah bangsa yang memiliki martabat tentu saja mewarnai perjalanan berdarah para tokoh bangsa sebelum tanggal 17 Agustus 1945. Peran pembebas pada saat itu bertitik tolak pada satu kata yaitu pendidikan. Pendidikanlah yang membuat para tokoh kemerdekaan Indonesia sadar akan kondisi dan nasib bangsanya. Pendidikan jugalah yang akhirnya memberikan mereka pengetahuan baru mengenai dunia luar yang juga tengah berjuang atau bahkan sudah berhasil dalam memperjuangkan kemerdekaan seperti Filipina dan China. 

Pendidikan yang diekslusifkan untuk dirinya sendiri agar memiliki derajat lebih tinggi tidak akan membuat perubahan apapun sehingga setelah kesadaran kritis sudah lahir maka langkah selanjutnya yaitu berdakwah dan berorganisasi seperti pernyataan Tan Malaka dalam bukunya Semangat Muda bahwa gagasan memerlukan kendaraan yaitu organisasi. 

Pasca proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 maka langkah selanjutnya yaitu menentukan bagaimana fondasi negara ini dibangun, meskipun pada saat itu sudah terjadi banyak konvensi yang dibuat oleh para Founding Father’s berupa Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, maka langkah selanjutnya yaitu menyempurnakan UUD 1945 dan melaksanakan apa yang sudah diamanatkan oleh Konstitusi. 

Pada awal kemerdekaan, sekitar tahun 1945-1955 banyak sekali ketidakstabilan negara Indonesia sebagai akibat negara yang baru saja merdeka. Pergantian konstitusi atau hukum dasar negara dari UUD 1945 lalu berubah menjadi Konstitusi RIS pada tahun 1950 dan pada tahun 1955 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang menginstruksikan agar konstitusi negara Indonesia kembali ke UUD 1945. 

Fase inipun berlanjut pada era Orde Baru karena memang kondisi UUD 1945 masih banyak kekurangan, maka setelah keruntuhan rezim Orde Baru tahun 1998 dimulailah amandemen UUD 1945 yang berlangsung sebanyak empat kali. 

Sejak gelora semangat reformasi dan amandemen hukum dasar negara maka stabilitas negara jauh lebih baik dengan adanya demokratisasi di setiap aktivitas berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu pada fase ini sebuah bangsa akan mengalami kenaikan level dimana membutuhkan sosok pemakmur. 

Penafsiran pemakmur ini harus dipertegas untuk kepentingan rakyat bukan untuk korporasi dan para birokrat yang feodal. Inti dalam memaksimalkan pelaksanaan demokrasi di Indonesia yang harus berbanding lurus dengan tingkat dan jaminan pendidikan kepada seluruh warga negara. 

Pendidikan yang menjadikan setiap individu masyarakat menjadi sebuah komoditas yang dihisap nilai lebihnya akan tetapi pendidikan yang bertujuan memberikan kesadaran kritis kepada masyarakat dan tidak hanya melulu soal pembangunan yang selama ini berfokus pada ekstraksi, eksploitasi dan keuntungan saja. 

Kemakmuran yang berorientasi pada pemerataan pendidikan untuk seluruh warga negara apabila dapat terealisasi akan memudahkan langkah Indonesia pada 2045 nanti untuk menjadi salah satu negara raksasa di dunia.


*Penulis Muhammad Zuhal Qolbu Lathof, menyukai baca, diskusi dan literasi dan memiliki sifat Philogynik dari lahir. Saat ini Zuhal berkuliah di Fakultas Hukum Jurusan S-1 Ilmu Hukum angkatan 2017 dan aktif mengikuti beberapa organisasi di kampus.

No comments:

Powered by Blogger.