Potret dan Narasi Perempuan dalam Meliput Berita - Resensi Buku Perempuan-Perempuan Tak Berwajah

Penulis : Ayun
Judul Buku : Perempuan-Perempuan Tak Berwajah 

Penulis : Francesca Marciano 

Penerjemah : Rahmani Astuti 

Penerbit : Gramedia 

Tebal : 364 halaman

Foto pelacur Thailand berusia sepuluh tahun berhasil menjadikan Maria Galante mendapatkan penghargaan World Press Photo pada kategori Contemporary Issue. Karya tersebut banyak diperbincangkan fotografer dunia. Foto gadis-gadis Thailand yang berusia belia tersebut seperti boneka barbie rusak yang diterangi lampu neon layaknya sesosok mayat kecil yang ditelanjangi sempurna. 

Maria, adalah seorang perempuan berusia 32 tahun yang tidak bisa hidup tanpa buku dan dibesarkan oleh ayahnya ketika zaman perang. Maria banyak menghasilkan foto-foto liputan tentang imigran Albania, korban AIDS di Afrika, transseksual di India dan tentang pekerja pabrik yang menuntut haknya. Menjadi perempuan yang idealis, Maria kerap di hantui rasa bersalah dan bertentangan dengan dirinya yang menjadikannya seperti seorang pencuri. 

Ia seolah menjadi pengganggu di tengah kesengsaraan orang lain. Hal tersebut membuatnya menjadi sangat cemas dan berdampak pada psikologisnya. Akibat dari semua itu, ia memutuskan untuk minum pil anti depresi secara terus menerus hingga kondisinya membaik. 

Setelah empat bulan vakum dari dunianya, Maria mengambil keputusan hanya memotret makanan sebagai obyek untuk majalah di Milan dan London. Alasannya tidak lain agar tidak terkungkung dengan pemikirannya. Namun tidak berselang lama, Pierre salah satu sahabatnya yang menjadi koresponden di salah satu media, memberikan tawaran untuk meliput isu kemanusiaan di Afghanistan. 

Pierre memaksa Maria untuk menerima tawaran tersebut, karena ia paham betul karya-karya Maria banyak terinpirasi dari fotograf yang memilih jalan sunyi dalam berkarya, Diane Arbus. Hidupnya didedikasikan untuk mengabadikan kehidupan dan momentum gila yang tidak biasa, selama masih dalam garis kenormalan masyarakat. Sehingga karya yang dihasilkan banyak mengundang empati, tanya dan bahkan penolakan. 

Muncul kegelisahan yang tiba-tiba menghantui saya saat membaca novel ini, tepat saat Maria menerima tawaran untuk peliputan tersebut. Saya membayangkan Maria akan kembali dengan dunianya. Rupanya novel ini mau mengatakan siapa yang kamu idolakan mempunyai pengaruh besar dalam laku dan keputusan yang diambil. 

Setelah melalui proses berpikir dan perdebatan panjang ia memutuskan untuk terlibat dalam proyek tersebut. Sampai disini saya percaya bahwa kerja jurnalistik tidak lain adalah panggilan jiwa. Maria bersama Imo Glass, seorang editor di sebuah majalah, berangkat ke Afghanistan untuk meliput perempuan-perempuan yang akan bunuh diri lantaran dijodohkan dengan laki-laki yang usianya terpaut jauh, dua bahkan tiga kali lipat dengan usia gadis-gadis itu.

Sebelum keberangkatannya, mereka dikarantina selama dua minggu dan dibekali baju besi yang digunakan sewaktu-waktu ada kejadian yang tak diinginkan. Memotret wanita Afghanistan terkenal sulit khususnya di wilayah Pasthun yang warganya sangat konservatif dan tertutup. Pernah dilokasi tersebut seorang jurnalis CNN diperlakukan secara mengenaskan ditodong pistol dan mendapatkan penahanan lantaran memotret tanpa izin. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum bagi setiap jurnalis yang melakukan peliputan di daerah rawan konflik. 

Belum lepas dari ingatan kita, kasus Jamal Khashoggi wartawan yang dibunuh pada Oktober 2018 silam. Wartawan senior tersebut pernah meliput kasus besar yaitu invasi Soviet ke Afghanistan dan Osama Bin Laden untuk kantor berita Arab Saudi. Perilaku barbar orang yang mempunyai kekuasaan, yang bagi Jamal urusan menghilangkan nyawa sangatlah mudah. 

Berkat insting jurnalistik yang dimiliki, Maria mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, salah satunya mempelajari budaya orang-orang Afghanistan. Serta memahami betul ilmu yang didapatkan selama pelatihan. Ia benar-benar mempertaruhkan dirinya untuk datang ke Afghanistan. Jika sewaktu-waktu terjadi peperangan ia harus mampu mengambil sikap dan tindakan yang tidak merugikan dirinya. Harus siap dengan konsekuensi dan keadaan apapun yang akan dihadapi. 

Lembah Afghanistan dengan guratan cahaya fajar yang sedikit sendu menyambut Maria dan Imo. Setibanya di bandara, poster yang terpampang dan berukuran besar itu menarik perhatian mereka. Terdapat sosok Presiden Hamid Karzai lengkap dengan kopiah astrakham dan tulisan yang berisi perdamaian dan demokrasi. 

Bersebelahan dengannya yang terlihat lebih besar adalah poster pahlawan Afghan Komandan Jendral Massoud, seorang pemimpin melawan pemberontak Taliban. Poster tersebut dilengkapi dengan kalimat yang menggambarkan sebuah perjuangan, bahwa perdamaian dan demokrasi adalah cita-cita yang diembannya selama ini, akan tetapi ia tidak bisa hidup lama untuk melihat cita-citanya tercapai. 

Buku yang diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ini, pembaca digiring untuk melihat keadaan Afghanistan. Penggambaran tentang wajah-wajah Napoli dan Sisilia orang-orang asli Italia banyak berkeliaran. Sejak 2001 ribuan pasukan didatangkan dari 37 negara paling banyak berasal dari Amerika dan Inggris. Menurut keterangan ISAF (International Security Assitance Force) terdapat 32.000 orang yang disebar di beberapa provinsi termasuk Kabul. 

Lewat Hanif orang asli Afghanistan sekaligus yang akan menemani perjalananan mereka selama bertugas, banyak bercerita tentang keadaan orang-orang Afghanistan yang sebenarnya lebih banyak hidup tersiksa dibandingkan dengan ribuan warga sipil asing yang tinggal sebagai personel PBB, konsultan-konsultan hingga orang-orang yang melakukan bisnis gelap. 

Di tempat itu harga-harga makanan dan kebutuhan pokok sangat mahal terlebih setelah mendapatkan intervensi dari Amerika. Pembaca digiring untuk membayangkan bahwa kehidupan seperti di kota mati yang dipenuhi reruntuhan biaya hidupnya lebih mahal dibanding Manhatan. 

Dalam novel ini kita akan banyak menemukan cara-cara dan pendekatan yang dilakukan oleh seorang jurnalis foto dalam mendekati objeknya. Strategi dan cara-cara tersebut mampu divisualisasikan oleh pembacanya melalui narasi yang dibangun oleh si penulis. Keadaan negara yang berkonflik sangat detail diceritakan walaupun dengan kalimat yang agaknya bertele-tele. 

Sebagai pembaca kita digiring untuk terlibat dan merasakan kejadian yang terjadi di Afgahnistan. Bagaimana para perempuan-perempuan belia yang dijodohkan oleh orang tuanya menolak dan memilih untuk bunuh diri. Sistem perjodohan yang dilakukan oleh pihak keluarga sudah menjadi rahasia umum. Perempuan-perempuan yang menolak tentu akan dberikan hukuman yang berat hingga di hukum mati. 

Dari sini kita bisa belajar bagaimana kebebasan perempuan di belahan bumi lainnya masih banyak pembatasan termasuk memilih pasangan hidup yang seharusnya menjadi kebebasan dan hak bagi setiap individu. walaupun sedikit bertele-tele dalam bercerita, namun buku mempunyai alasan kuat untuk di baca oleh para siapapun termasuk para perempuan yang berkutat di dunia jurnalistik dan kepenulisan. 


*Penulis Ayun dapat disapa di akun IG @ayun_425 

No comments:

Powered by Blogger.