Budaya Teknologi: Strategi Dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

Penulis : Hari Kusuma D
Kondisi aktual saat ini, wacana terkait Revolusi industri 4.0 semakin ramai terdengar dalam masyarakat kita. Revolusi Industri 4.0 seolah sudah tidak terbendung lagi hadir dalam masyarakat kita, sebagaimana arus globalisasi yang telah terjadi sebelumnya. Perkembangan pesat teknologi – terutama teknologi informasi – bahkan sudah mempengaruhi pola kehidupan manusia saat ini. 

Revolusi Industri 4.0 pertama kali dikenalkan oleh Prof. Klaus Martin Schwab asal Jerman dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution pada tahun 2017. Revolusi Industri 4.0 merupakan perubahan yang terjadi dalam masyarakat ditandai dengan berkembang pesatnya teknologi (gabungan antara otomatisasi, komputasi dan internet) yang bedampak pada pola kehidupan manusia (produksi dan konsumsi) sehingga menjadi semakin efektif dan efesien.

Perkembangan teknologi dalam Revolusi Industri 4.0 memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif yang dapat ditimbulkan yaitu, dengan sistem otomatisasi dan komputasi dapat meningkatkan efisiensi produksi bagi korporasi, dengan penggunaan sistem internet dapat memperluas jaringan pemasaran, memperbanyak kuantitas hasil produksi serta dengan sistem komputasi dapat meningkatkan keakuratan informasi terhadap produk untuk dapat meningkatkan kualitasnya. 

Namun di sisi lain, Revolusi Industri 4.0 juga memiliki dampak negatif diantaranya adalah dengan otomatisasi dan komputasi dalam sektor industri akan menimbulkan banyak orang kehilangan pekerjaan karena digantikan mesin, berkembangnya sistem serba online (elektronik) diprediksi akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan karena digantikan sistem elektronik, serta dengan perkembangan teknologi dapat mengikis budaya (nilai) yang ada dalam masyarakat lokal. 

Revolusi Industri 4.0 dengan segala dampaknya tersebut mau tidak mau akan melanda bangsa Indonesia. Wacana mengenai bagaimana mengahadapi Revolusi Industri 4.0 ini sudah didengungkan baik oleh pemerintah, kalangan akademisi dan segelintir masyarakat kota terpelajar di negara Indonesia. 

Pertanyaannya bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia, baik pemerintah maupun seluruh elemen masyarakat akan menghadapi Revolusi Industri 4.0? Apakah kita akan ikut berpartisipasi dalam perkembangan Revolusi Industri atau kita hanya akan menjadi konsumen belaka? Apakah kita masih dapat mempertahankan budaya kita atau malah terkikis oleh arus teknologi dan globalisasi yang semakin masif? 

Membangun Budaya Teknologi
Dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0 yang tengah melanda kondisi global saat ini, pemerintah Indonesia juga meresponnya dengan aktif mensosialisasikan pada masyarakat maupun mengeluarkan langkah strategis agar masyarakat juga siap menghadapi dampak dari Revolusi Industri 4.0. 

Strategi Pemerintah dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini dapat kita lihat dalam roadmap percepatan Revolusi Industri 4.0 dengan mengeluarkan empat langkah strategis. Pertama, meningkatkan keterampilan angkatan kerja dalam penggunaan dan penguasaan teknologi. Langkah pertama ini diwujudkan dengan pelaksanaan pendidikan vokasi (SMK) yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kedua, memanfaatkan teknologi digital untuk memacu produktifitas pada usaha Industri Kecil dan Menengah (IKM). Langkah kedua diwujudkan dengan pembuatan aplikasi E-Smart. Ketiga, Penggunaan teknologi digital seperti BigData, Cyberdata, maupun Cloud dapat meningkatkan efisiensi produksi serta efisiensi biaya bagi perusahaan. Keempat, pemerintah akan melakukan inovasi teknologi melalui pengembangan Start Up untuk mendorong wirauaha berbasis teknologi. 

Dengan keempat langkah tersebut pemerintah memfokuskan pada lima sektor industri untuk siap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Kelima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, industri tekstil, industri otomotif, industri elektronik serta industri kimia. (kemenperin.go.id)

Langkah-langkah strategis pemerintah itu rasanya akan sulit untuk diwujudkan apabila kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia tidak meningkat. Dibutuhkan kualitas SDM yang memiiki daya inovasi, kreatif, mampu memanfaatkan peluang serta yang terakhir adalah mampu berbudaya teknologi. Upaya dalam meningkatkan kualitas SDM ini harus dimulai dari bidang perbaikan gizi pada usia dini (pencegahan stunting) dan bidang Pendidikan.

Dalam usaha pencegahan stunting harus dimulai dengan perbaikan gizi pada ibu mengandung sehingga dapat mencegah angka kelahiran maupun kematian ibu di Indonesia, akses makanan bergizi pada anak usia dini, meningkatkan anggaran kesehatan serta menyediakan lingkungan hidup yang sehat (secara fisik dan sosial) bagi tumbuh kembangnya anak usia dini.

Langkah meningkatkan kualitas SDM dalam bidang Pendidikan yaitu, dengan mewujudkan anggaran Pendidikan sebesar 20% dalam APBN untuk khusus biaya pendidikan bukan termasuk menggaji tenaga pengajarnya, membuat sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan imajinasi dan inovasi peserta didik yang bukan sekedar menghafal belaka, meningkatkan kualitas tenaga pengajar pendidikan, pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, serta memberikan akses pendidikan yang mudah untuk semua warga negara Indonesia dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

Berkaitan dengan perkembangan Teknologi saat ini, masyarakat kita masih belum memiliki budaya Teknologi. Kondisi sebagian besar masyarakat kita dalam berteknologi, baru sebatas pada euforia konsumsi berteknologi. Artinya, penerimaan dan penggunaan teknologi baru dimaknai dalam aspek fisiknya/materialnya untuk memenuhi kenikmatan dan gaya hidup (fashion) semata. 

Masyarakat kita belum banyak yang telah sadar untuk “berbudaya teknologi”. Budaya teknologi adalah cara menerima dan menggunakan teknologi dengan memaknai nilai (spirit) yang terkandung dalam teknologi. Nilai yang terkandung dalam budaya teknologi itu adalah produktivitas, efisiensi, inovasi, kreativitas dan kemajuan.

Budaya teknologi mensyaratkan adanya kemampuan individu dalam berpikir rasional, kritis, kreatif dan inovatif. Sehingga mampu menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan bijaksana untuk dapat memberi manfaat kepada kehidupan. Perkembangan teknologi yang pesat, termasuk komputer, smartphone, internet, media sosial dan teknologi mutakhir lainnya, menjadi pendukung dalam mengembangkan budaya dalam masyarakat Indonesia. Sehingga dampak negatif dari perkembangan teknologi dapat dihindari, misalnya penyebaran hoax, pornografi, penipuan on line, dan kejahatan internet lainnya. 

Budaya teknologi pada akhirnya akan menciptakan produktifitas bagi setiap individu yang telah berbudaya teknologi. Maksudnya, individu yang telah berbudaya tekonologi dapat memanfaatkan teknologi untuk dapat membuat peluang bagi dirinya maupun masyarakat, misalnya: internet digunakan untuk mengembangkan perusahaan start up dari pada digunakan hanya untuk bermain game, media sosial digunakan untuk membuat konten yang bermanfaat dari pada digunakan dalam menyebarkan hoax.

Revolusi Industri 4.0 sebagai Sebuah Peluang

Revolusi industri 4.0 dapat menjadi sebuah bencana atau Peluang bagi bangsa Indonesia ke depan. Dibutuhkan sinergi yang baik antara Pemerintah dengan semua lapisan masyarakat Indonesia agar Revolusi Industri 4.0 menjadi sebuah peluang. Tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya hanya diserahkan kepada pemerintah belaka. Masyarakat juga dituntut partisipasi aktifnya dalam memanfaatkan dampak positif dari Revolusi Industri 4.0 dan menjadikannya sebagai sebuah peluang untuk dapat berkompetisi dalam persaingan global, lebih-lebih pada tahun 2025 kita telah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). 

Selain hal itu, diperlukan budaya berpikir yang perlu diubah dalam budaya kolektif masyarakat kita dalam mewujudkan budaya teknologi. Karena seperti hal yang telah disinggung di atas, dalam budaya teknologi itu mensyarakat adanya cara berpikir yang rasional, kritis, kreatif dan inovatif dalam tiap individunya.

Sejatinya, teknologi merupakan hasil budaya manusia. Teknologi digunakan dan terus dikembangkan oleh manusia untuk dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan manusia serta bertujuan dalam memudahkan kehidupan manusia. Maka dalam budaya teknologi, pemanfaatan dan pengembangan teknologi seharusnya membawa nilai-nilai positif teknologi – efisiensi, inovatif, kreatif dan kemajuan – agar sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. 

Budaya bangsa Indonesia, menurut Radhar Panca Dahana setidaknya memiliki dua sektor yaitu budaya maritim dan budaya agraris. Agar sesuai dengan budaya bangsa kita, Berbudaya Teknologi dalam Revolusi Industri 4.0 juga harus dimanfaatkan untuk memajukan, menginovasi dan mengembangan sektor maritim dan sektor agraris. 

Dua sektor yang dianggap tidak cocok dengan konsep industri, sehingga manusia-manusia yang berkaitan dengan sektor maritim (nelayan, petambak dll) serta di sektor agraris (petani, buruh tani dll) masih dalam kondisi tertinggal dan miskin. Revolusi Industri 4.0 dengan budaya teknologi yang kita kembangkan, seharusnya juga tidak melupakan sektor pertanian dan sektor maritim untuk dapat mempertahankan budaya bangsa yang terlahir sebagai bangsa agraris dan maritim. 

Dengan demikian, Revolusi Industri 4.0 dapat menjadi peluang bagi setiap generasi bangsa dalam usaha memakmurkan bangsanya. Perkembangan teknologi bukan menjadi hambatan bagi budaya (nilai), akan tetapi justru dapat berjalan beriringan untuk dapat saling mengembangkan. Sehingga dengan kita berbudaya teknologi dalam era Revolusi Industri 4.0, maka bangsa Indonesia dapat pula menggapai bonus demografi dan mewujudkan mimpi menjadi salah satu kekuatan ekonomi di dunia pada tahun 2030. Semoga!


*Hari Kusuma D, mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang sekarang aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam Badko Jateng-DIY. Hari dapat disapa di akun IGhariku_

No comments:

Powered by Blogger.