Adipati Karna: Menggugat Majelis Akhirat

Penulis : Fachri Sakti Nugroho
Suatu hari di akhirat, malaikat sedang menyidang Karna atas amal dan dosa yang pernah ia perbuat di dunia. 

"Hai Karna, dari buku amal, tercatat kamu banyak melakukan dosa di dunia," kata malaikat yang kerap disapa oleh para calon penghuni surga dan neraka sebagai Malaikat Hakim. 

"Memang ada beberapa amal baik yang kamu lakukan, tapi sedikit. Ditambah kesaksian dari tangan, kaki dan seluruh anggota tubuhmu yang membenarkan kelakuan jahatmu. Kami putuskan, kamu dijebloskan ke neraka selama-lamanya," pungkas Malaikat Hakim sambil mengetok palu besarnya di meja hijau akhirat. 

Mendengar vonis yang ia terima, Karna hanya bisa pasrah. Jiwa ksatrianya masih menempel hingga di akhirat. Dengan lapang dada ia menerima vonis, tanpa pikir-pikir, tanpa mengajukan banding. Dengan langkah lesu ia berjalan ke pintu neraka, ditemani pengawal bermuka seram di samping kiri dan kanannya. 

"Oh, akhirnya tiba waktuku mempertanggungjawabkan semua dosa yang telah kuperbuat," ujar Karna di dalam hati. 

Air mata yang tak pernah ia tumpahkan sebelumnya, kini tak kuasa ia bendung lagi. 

"Teesss," suara air matanya jatuh ke lantai akhirat. 

Ajaib, setelah air mata itu menetes di lantai, tiba-tiba saja api neraka padam seketika. Sedahsyat sapuan badai, dari tetesan air mata Karna menghempas angin sejuk ke seluruh penjuru mata angin. Tak terbendung, menjebol pintu neraka dan pintu sorga. Penghuni neraka yang sebelumnya kepanasan, kini bersorak girang. Sementara, penghuni surga terheran-heran, daya apakah yang mampu mendobrak pintu surga dan auranya menggetarkan seisi akhirat itu. 

Tak lama kemudian, dari arah neraka, tergopoh-gopoh dua algojo neraka berlari menuju ke pengadilan akhirat dan menanyakan apa yang terjadi. Saat melihat Karna yang tertunduk lesu dan dua pengawal bermuka seram merinding ketakutan, mereka jadi sedikit banyak mengerti dan menduga, 

"Jangan-jangan kejadian tadi ulah si Karna," kata algojo neraka dalam hati. 

Malaikat Hakim terkaku-kaku melihat apa yang beru saja terjadi di depan matanya. Perangainya yang biasanya tegas, kini jadi seperti anak kecil yang ketakutan melihat hantu. Setelah ditegur oleh algojo neraka, barulah Malaikat Hakim tersadar dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi kepada dua algojo neraka. 

"Oh jadi begitu ceritanya," ujar algojo satu. 

"Iya, tapi sidang sudah dilakukan seadil-adilnya, dari buku catatan amal dan diperkuat oleh kesaksian tangan, kaki dan tubuh Karna, terbukti jelas ia bersalah," kata Malaikat Hakim. 

"Ya sudah, kita bawa saja ke neraka, sesuai aturannya kan memang begitu," timpal algojo dua. 

Dua algojo tersebut kemudian berjalan ke arah Karna yang masih tertunduk lesu. Niat hati, dua algojo tersebut ingin menedang pantat Karna supaya langsung terlempar ke dalam neraka. Namun langkah mereka terhenti tatkala terdengar suara dari air mata Karna yang menetes di lantai. 

"Tunggu dulu, hai Malaikat, algojo dan pengawal!" seru suara tersebut, yang terdengar mirip suara Karna. 

"Kalian memang sudah benar, menjalankan sidang sebagaimana mestinya, tapi jangan sampai kalian melepaskan hukum dari sukmanya, yaitu keadilan. Hukum tanpa keadilan bagaikan jasad tanpa sukma," tegas suara air mata Karna. Malaikat Hakim yang tertegun mendengar suara air mata Karna sontak bertanya,

"Siapakah kau gerangan? Benar sekali ucapanmu itu. Namun cara kami mengadili memang seperti ini. Apakah kamu memiliki pertimbangan, kesaksian atau usulan untuk mencari keadilan dalam kasusnya Karna. Kami akan mendengar apapun yang kamu sampaikan, mempertimbangkan dan lalu mengadili dengan seadil-adilnya. Karena Aku percaya, menetesnya dirimu, kemampuanmu memadamkan api neraka, hingga mampu berbicara dengan kami pasti karena kuasa-Nya. Lekaslah bicara hai air mata Karna," kata Malaikat Hakim. 

Sementara itu, Karna masih tertunduk lesu, ia mengetahui apa yang terjadi, tapi ia tak peduli. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.  "Terima kasih Malaikat Hakim atas kebijaksanaanmu," kata air mata Karna.  

"Aku akan bersaksi dan menceritakan kehidupan Karna yang sebenarnya. Juga alasan di balik semua dosa-dosa yang ia perbuat." Air mata yang bening itu kemudian menceritakan, bahwa sejak kecil Karna telah dibuang oleh ibunya, Kunti. Saat itu Kunti yang masih remaja iseng merapal ajian atau Adityahredaya. Mantra tersebut bisa mendatangkan dewa-dewi yang singkat cerita bisa memberikan keturunan kepada Kunti. 

Di situlah letak kesalahan Kunti. Setelah ia merapal mantranya, datanglah Dewa Surya yang menitiskan anak kepada Kunti. Dewa Surya berpesan kepada Kunti untuk memberikan nama Karna kepada anak titisannya. Dewa Surya juga memberikan berkah dengan mewariskan kesaktian dan baju perang kepada Karna yang kelak akan menjadi satria pilih tanding dan disegani kawan maupun lawannya. Apakah harus senang atau sedih, Kunti pun kebingungan dengan adanya bayi titisan Dewa Surya. 

Bukan hanya karena ajaib bayi itu tiba-tiba lahir dari telinganya Kunti, namun juga apa nanti kata orang jika Kunti anak seorang raja yang secara fisik masih perawan telah memiliki anak sebelum terikat hubungan pernikahan. Semua penduduk negeri, bahkan seluruh dunia akan mencemoohnya. Ia akan menanggung aib, masa depannya suram, dan tak akan ada pria yang akan datang melamarnya. 

"Oh Tuhan, apa yang harus ku lakukan?," kata Kunti kala itu. 

Di tengah kebingungannya, Kunti yang masih labil singkat bertindak, membuang Karna ke sungai Aswa. Bukan tanpa rasa sedih ia melakukannya. Hati Kunti sebetulnya juga hancur ketika melepaskan keranjang bayi yang berisi bayi Karna ke sungai Aswa. Terlebih bayi Karna sangat lucu, gemuk dan bercahaya seperti sinar surya. Oh, siapa yang akan tega membuang bayi selucu itu?

Namun nasi sudah menjadi bubur, Kunti terlanjur melepaskan tangannya dari pegangan keranjang yang berisi anaknya. Air mata Kunti mengalir lebih deras dari aliran air sungai Aswa. Ia meronta-ronta, berteriak lebih keras dibanding suara guntur. Apalagi saat melihat ombak-ombak kecil sungai Aswa menerjang keranjang bayinya. Oh, rasanya seperti jantung Kunti mau copot saja. 

"Oh bayiku, apakah engkau akan selamat? Sungguh berdosa ibumu, jahat sekali apa yang sudah ku lakukan," kata Kunti sambil menangis. Terbesit di benaknya untuk melompat ke sungai dan berenang mengambil kembali bayinya. Namun karena hatinya terguncang, badanya menjadi lemas dan pingsan sebelum sempat menceburkan diri ke sungai. 

Sebelum matanya benar-benar terpejam, Kunti masih sempat melihat keranjang bayinya bergerak pelan mengikuti arus. Tangannya berusaha meraih keranjang yang jauh itu. Bibirnya bergetar bergerak perlahan menyebut nama anaknya, "Karna, maafkan aku." 

Seiring pandangan yang memudar dan kesadaran yang hilang, Karna pun semakin menjauh terbawa aliran sungai, menjemput takdirnya di masa depan.

Bersambung

No comments:

Powered by Blogger.