Lakon Sukrasana-Sumantri dan Presiden Pilihan Wagiman


Penulis : Fachri Sakti Nugroho

Bambang Sukrasana, malang benar nasibmu, kebajikanmu berbalas kematian tragis di tangan orang yang kamu kasihi.

Mata Paijo kecil enggan terpejam malam ini, seolah ada kerikil yang menyumpal di kelopak matanya ketika ia memejamkan mata. Pikirannya menjelajah tak tentu arah. Kadang kepikiran cita-citanya kelak ketika dewasa ingin jadi dokter, hingga kepikiran kalau-kalau ada hantu masuk ke kamarnya. Wajar saja Paijo kecil takut, malam ini Paijo di rumah sendirian. Ayah dan ibunya masih lembur kerja di pabrik konveksi, sedang kakeknya sedang kenduri acara syukuran di rumah tetangganya yang baru saja beli motor N-Max.

Sebetulnya bukan tanpa alasan Paijo susah tidur malam ini. Penyebabnya adalah wedang kopi menyan milik kakeknya yang diam-diam dia minum ba’da maghrib tadi. Kopi menyan itu memang bukan sembarang kopi. Kopi menyan dari Kampung Tlogorejo memang dikenal mantap karena memiliki kadar kafein yang tinggi.

Klesak-klesik, Paijo, bocah usia 8 tahun ini lama-lama kesal sendiri. Rasa tak nyaman karena susah tidur membuatnya stres. Glundang-glundung hingga membanting bantal guling, Paijo melampiaskan emosinya karena tak kunjung bisa tidur. Memutar lagu kesukaan di handphone hingga menghitung domba sudah ia lakukan, namun tetap saja matanya enggan terpejam. Salah sendiri Paijo minum kopi menyan tanpa permisi.

Tak lama setelah itu, Kakek Wagiman, pulang dari kenduri. Muka Wagiman kecut sekali. Seolah kesal habis ditagih utang, mulutnya nyinyir tiada henti. Bingkisan nasi yang ia dapat dari kenduri dihempaskan begitu saja di atas meja, tak peduli di dalamnya ada opor ayam yang bisa saja tumpah karena ditaruh serampangan. Usut punya usut, Wagiman ternyata kesal lantaran tadi di acara kenduri dia berdebat dengan tetangganya soal Pilpres.

Buru-buru Wagiman menghampiri kamar cucu kesayangannya, Paijo. Paijo yang merupakan cucu pertamanya itu adalah pelipur segala lelahnya, melihat Paijo tumbuh dan berkembang membuat Wagiman semangat menjalani kehidupan meski tak bergelimang harta. Pendapatannya sebagai petani bisa dibilang pas-pasan, namun Wagiman selalu menabungkan uangnya untuk pendidikan Paijo. Ia ingin cucunya bisa kuliah dan kelak akan menjadi orang yang sukses, tidak seperti dirinya yang hanya petani biasa, juga tidak seperti ayah dan ibunya yang nasibnya diambang PHK.

Tanpa mengetuk pintu, Wagiman langsung saja masuk ke kamar Paijo. Ia sudah tahu kalau cucunya belum bisa tidur. Sebetulnya Wagiman juga tahu kalau Paijo diam-diam meminum kopi menyannya.

“Gak bisa tidur le?,” tanya Wagiman kepada Paijo yang hanya menjawab lewat anggukan kepala.

Wagiman kemudian merebahkan tubuhnya di samping Paijo. Tanpa meminta sepakat, ia langsung menceritakan sebuah dongeng kepada Paijo. Dongeng tentang Bambang Sukrasana dan Bambang Sumantri.

Sak sawijining dino ing tlatah Maespati, ada tokoh yang bernama Bambang Sukrasana dan saudaranya yang bernama Bambang Sumantri,” Wagiman mulai mendongeng. Paijo yang sejak kecil memang kerap didengarkan dongeng pewayangan oleh kakeknya langsung saja memasang telinga lebar-lebar dan antusias.

Rasa kesal di hati Paijo hilang seketika, dongeng dari kakeknya selalu menarik perhatiannya. Bukan hanya karena ceritanya yang bagus, namun kakeknya juga pandai menyisipkan lelucon saat mendongeng. Meski begitu, yang namanya anak-anak selalu saja mudah bosan, belum sampai dongengnya selesai, Paijo sudah tertidur lelap.

“Jo, jo, dongengnya baru mau masuk ke bagian paling seru, kamu kok sudah merem,” ujar Wagiman yang gemas melihat cucunya.

Karena tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk cucunya, Wagiman lantas beranjak keluar dari kamar Paijo menuju ke teras rumah. Ia rogoh saku baju dan ambil sebatang kretek. "Waktu yang pas buat merokok," ujar Wagiman dalam hati.

Wagiman ternyata galau, dia masih kesal karena perdebatan dengan tetangganya tadi saat kenduri.

Sebetulnya presiden pilihan Wagiman telah dinyatakan menang dalam Pilpres. Namun dia selalu diejek oleh tetangganya, bahwa presiden pilihannya akan 'disandera' oleh partai politik pendukung. Wajar saja, pasalnya koalisi yang dibangun oleh presiden pilihan Wagiman memang terlalu 'gemuk'. Atau bisa saja di kemudian hari pemerintah akan jadi otoriter karena mayoritas partai politik berada di presiden terpilih. Kemungkinan terburuknya, presidennya nanti malah disetir oleh partai politik pendukung.

"Kepercayaan yang diberikan oleh rakyat bakal diingkari hanya demi ambisi politik dan kekuasaan, lha apa enggak luput itu namanya?," kata tetangga kepada Wagiman tadi saat kenduri.

Apa yang disampaikan oleh tetangganya itu membuat Wagiman teringat dengan dongeng Bambang Sukrasana yang tadi ia kisahkan ke Paijo. Dongeng tersebut menceritakan tentang penghianatan yang dilakukan oleh Bambang Sumantri kepada Bambang Sukrasana, padahal Bambang Sukrasana telah membantu Bambang Sumantri meraih ambisinya.

"Apa iya nanti rakyat yang sudah gila-gilaan membela ini bakal dikhianati?" ujar Wagiman.

"Jika iya, biar saja Rahwana datang untuk menggigit putus leher Presidenku nanti," imbuhnya.

Dikisahkan, Bambang Sukrasana dan Bambang Sumantri adalah saudara kandung, anak Resi Suwandageni dari Padepokan Ardi Sekar. Bambang Sukrasana berwujud buruk rupa, badannya kerdil dan bermuka jelek, sedangkan Bambang Sumantri berbadan gagah dan rupawan. Sejak kecil mereka berdua selalu bermain bersama, saling mendukung satu sama lain, tak terpisahkan hingga tumbuh menjadi pemuda yang sakti mandraguna. 

Bambang Sukrasana berwatak polos, ia tak memiliki ambisi apapun dalam hidupnya kecuali hanya ingin selalu tinggal bersama saudaranya. Sementara Bambang Sukrasana memiliki watak yang ambisius. Meski watak mereka berbeda, namun mereka berdua saling menyayangi, mendukung satu sama lain dan berkomitmen untuk selalu bersama.

Cerita bahagia ini berubah menjadi petaka di kemudian hari. Suatu ketika, Bambang Sumantri berambisi untuk menjadi Maha Patih di Kerajaan Maespati yang dipimpin oleh Raja Arjuna Sasrabahu. Dengan kepiawaian dan kemampuan yang dimilikinya, tentunya juga dengan pemberitaan yang viral dan sensasional mengenai dirinya, Bambang Sumantri harusnya bisa dengan mudah menjadi Maha Patih di Maespati. Namun tanpa dinyana, Raja Arjuna Sasrabahu memberikan syarat yang berat bagi Bambang Sumantri agar posisinya sebagai Maha Patih kelak mendapat legitimasi kuat. 

Syarat yang diberikan kepada Bambang Sumantri adalah menghadirkan Taman Sriwedari dari khayangan ke bumi Maespati. Sesakti-saktinya Bambang Sumantri, tetap saja ia tak akan mampu memenuhi syarat tersebut.

Beruntung Bambang Sumantri memiliki Bambang Sukrasana, yang kesaktiannya di atas rata-rata para ksatria. Bambang Sukrasana yang sangat menyayangi saudaranya mau saja membantu, asalkan ia diperbolehkan tinggal bersama Bambang Sumantri di Maespati. Permintaan Bambang Sukrasana ini memang terkesan kekanak-kanakan, namun seperti itulah dirinya, yang polos menyanyangi saudaranya.

Bambang Sukrasana kemudian berhasil membedol Taman Sriwedari dari khayangan dan dihadirkan di bumi Maespati hanya dalam waktu semalam. Hati Bambang Sumantri sangat bahagia mengetahui hal tersebut. Tanpa pikir panjang dia langsung mengizinkan Bambang Sukrasana untuk tinggal di Maespati. Namun karena wujudnya yang buruk rupa, Bambang Sumantri ingin Bambang Sukrasana tidak memperlihatkan diri di depan orang lain, terlebih Maespati banyak dihuni perempuan, Permaisuri dan selir Raja, mereka pasti ketakutan kalau melihat sosok Bambang Sukrasana.

Selain itu, Bambang Sumantri juga malu dengan wujud saudaranya yang buruk rupa, padahal Bambang Sumantri bisa mencapai level tertinggi di pemerintahan Maespati karena bantuan dan dukungan dari saudaranya. Bambang Sukrasana kemudian diminta untuk membuat persembunyian di Taman Sriwedari dan tidak boleh menjumpai siapapun kecuali Bambang Sumantri. 

Keesokan harinya, Bambang Sumantri melapor kepada Raja Arjuna Sasrabahu bahwa syarat menghadirkan Taman Sriwedari di bumi Maespati telah berhasil dilaksanakan. Mendengar hal itu, Raja langsung mengajak Permaisuri dan rombongan beserta Bambang Sumantri menuju ke taman yang keindahannya konon tiada tandingannya itu.

Di taman inilah petaka terjadi, Bambang Sukrasana yang polos tak kuasa menahan rindunya kepada saudaranya. Setiba rombongan Raja, Permaisuri dan Bambang Sumantri di Taman Sriwedari, Bambang Sukrasana langsung muncul dan menari kegirangan menyambut Bambang Sumantri. 

Sontak para rombongan kaget dan ketakutan melihat Bambang Sukrasana yang wujudnya buruk rupa. Tak ingin wibawanya hilang di depan Raja dan Permaisuri, Bambang Sumantri langsung mengambil inisiatif, ia mengangkat panahnya dan membidik ke arah saudaranya sembari menggertak meminta Bambang Sukrasana pergi dari Taman Sriwedari.

Bambang Sukrasana yang lugu dan tulus tak memundurkan langkah, yang dia inginkan hanya selalu tinggal bersama Bambang Sumantri. Sambil mengiba dan meratap, Bambang Sukrasana meminta Bambang Sumantri untuk menerima dirinya. 

Bambang Sumantri kemudian meminta kepada Raja dan Permaisuri untuk mengamankan diri dan keluar dari Taman Sriwedari. Karena sudah percaya kepada Bambang Sumantri, Raja dan Permaisuri mengiyakan saja dan segera angkat kaki. Padahal maksud dari Bambang Sumantri yang sebenarnya adalah supaya rahasianya dengan Bambang Sukrasana tidak terbongkar lebih jauh.

Merasa situasi sudah aman, Bambang Sumantri bisa bernafas lega. Kelegaan tersebut justru membuat dia lengah dan tidak sengaja melepaskan anak panah yang sejak tadi dia bidikkan ke arah Bambang Sukrasana.

Nyawa Bambang Sukrasana lepas seketika, bersamaan dengan panah yang melesat menembus dadanya. Mati sudah Bambang Sukrasana di tangan saudaranya sendiri. Sesaat sebelum nyawanya cabut dari raga, Bambang Sukrasana sempat berujar kepada Bambang Sumantri.

“Kakang Bambang Sumantri, Kakang tidak tahu berbalas budi, Kakang sudah menghianati kesetiaanku, semua sudah Dinda berikan untuk Kakang, hingga Kakang kini menjadi Maha Patih di Maespati, tapi Kakang justru membalas membunuh Dinda, saudara Kakang sendiri. Suatu saat akan tiba hari pembalasanku. Kelak, Kakang akan bertarung melawan Raja Raksasa, saat itulah rohku akan masuk ke dalam taring sang Raja Raksasa dan menggigit lehermu hingga tewas. Rohku tak akan tenang sampai hari itu tiba. Aku tak akan masuk ke Swargaloka tanpamu. Kutukanku akan menjemputmu!”

Benar adanya, hari yang terkutuk itu benar-benar tiba, dalam sebuah peperangan, Bambang Sumantri berhadapan dengan Raja Raksasa yang bernama Rahwana alias Dasamuka. Dalam pertempuran tersebut, Bambang Sumantri tewas setelah lehernya digigit oleh Rahwana yang taringnya telah dimasuki roh dari Bambang Sukrasana. Kutukan terbayar tuntas!

Tragedi ini tak harus terjadi andai Bambang Sumantri jujur sejak awal.

Angin malam menyapu kepulan rokok kretek Wagiman yang tinggal separuh. Sedang ia masih larut dalam lamunannya. Kali ini ia benar-benar takut kalau kejadian yang dialami Bambang bersaudara itu terulang kembali.

"Saudara kandung saja dikhianati, apalagi mung rakyat jelata," ujar Wagiman.

Lamunan Wagiman pecah tatkala suara elevisi di dalam rumahnya menyiarkan breaking news pengumuman siapa saja yang mengisi jabatan menteri.

“Presiden sudah menentukan siapa saja menteri-menteri di kabinetnya,” ujar pembawa berita cantik di televisi.

Wagiman langsung melompat dan berlari ke ruang tengah tempat televisi berada. Tak peduli nafasnya yang terengah-engah, dia berdiri seksama memandang layar kaca televisinya. Ia pelototi satu-persatu siapa menteri-menteri presiden pilihannya itu. Hingga akhirnya dia lemas sendiri karena melihat wajah-wajah menteri yang tak pernah ia nyana sebelumnya. Kecewa?

No comments:

Powered by Blogger.