Pancasila Bukan Sekedar Tulisan Tanpa Makna

Penulis : Abdul Haris Najib
Judul buku : Pancasila for The Next Generation
Penulis : Abdul Haris N.
Penerbit : Farha Pustaka
ISBN : 978-623-7505-84-6
Cetakan : Pertama, Oktober 2019
Tebal : 100 halaman

Bangsa Indonesia telah memilih Pancasila sebagai dasar negara. Sebagai sebuah dasar negara, ia merupakan “barang” sakral, dan tidak bisa diubah. Mengubah dasar negara, sama saja dengan merubah tatanan dan nilai negara Indonesia itu sendiri. 

Oleh sebab itulah, di dalam konstitusi negara yaitu UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, bagian pembukaan tidak dapat diubah atau diamandemen apapun kondisinya. Hal tersebut telah menjadi kesepakatan bersama. Di dalam pembukaan konstitusi negara, terdapat rumusan dasar negara Republik Indonesia yaitu Pancasila.

Sebagai dasar negara, Pancasila berisi nilai – nilai yang menjadi dasar bagi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila merupakan konsensus bersama untuk menyelenggarakan kehidupan di tanah air tercinta, Indonesia (hlm.2)

Namun akhir – akhir ini generasi muda seperti memandang Pancasila hanya sebagai susunan kata tanpa makna. Pancasila selalu diucapkan di setiap upacara bendera dan kegiatan – kegiatan lainnya. Akan tetapi, sikap dan perkataan manusianya, seperti tidak mencerminkan bahwa ia paham tentang makna Pancasila. 

Berbagai pemberitaan di media seakan membenarkan argumen tersebut. Pembunuhan, tawuran, seks bebas, pemakaian narkoba secara illegal, terorisme, korupsi dan lain sebagainya, merupakan topik – topik pemberitaan yang akrab di telinga kita (hlm. 3).

Begitulah sang penulis, Abdul Haris N. memberi pengantar terhadap bukunya. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman serta kegundahan hati terhadap situasi yang terjadi di Indonesia ini patut menjadi renungan bagi kita semua, khususnya generasi pemuda.

Buku yang terbagi ke dalam empat bagian ini, dapat dijadikan rujukan bagi generasi muda dalam merenungi, menghayati serta mengamalkan nilai – nilai Pancasila dalam kehidupan sehari – hari. Ada beberapa poin penting yang diuraikan di dalam buku Pancasila for The Next Generation ini.

Peran Penting Pancasila
Jika menilik sejarah terciptanya Pancasila, kita akan dapatkan betapa susunan nilai tersebut merupakan tali pengikat bagi masyarakat Indonesia yang begitu majemuk. Tidak kurang ada 5 agama resmi yang diakui, puluhan bahasa daerah, ratusan suku, serta terpisah oleh puluhan ribu pulau. Namun, kesemuanya itu dapat diikat erat oleh lima sila Pancasila (hlm. 27). 

Sila Pertama
Sila atau dasar yang menempati urutan pertama merupakan nilai yang mempunyai kedudukan sangat penting bagi bangsa Indonesia. Sila tersebut merupakan refleksi daripada keyakinan bangsa Indonesia akan adanya Tuhan. Sejarah mencatat bagaimana religiusnya bangsa ini, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan (hlm. 32)

Sila Kedua
Konsekuensi nilai yang terkandung dalam kemanusiaan yang adil dan beradab adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi hak asasi manusia, menghargai atas kesamaan hak dan derajat tanpa membedakan suku, ras, keturunan, status sosial maupun agama (hlm. 36)

Sila Ketiga
Dalam memaknai persatuan Indonesia, maka dalam hal pengambilan keputusan, terutama yang terkait dengan kelangsungan hidup bersama sebagai suatu bangsa, kepentingan bersama (bangsa) harus diutamakan dan didahulukan ketimbang urusan pribadi dan golongan (hlm. 39)

Sila Keempat
Sebagai negara yang telah merdeka dan mandiri, Indonesia berhak menerapkan sistem demokrasi dalam menjalankan urusan pemerintahannya, sesuai dengan nilai – nilai dan kepribadian bangsa. Oleh sebab itulah, di dalam sila yang keempat tersebut, dinyatakan bahwa demokrasi (kerakyatan) yang dianut dan diterapkan di Indonesia, adalah demokrasi yang didasarkan kepada perwakilan dan permusyawaratan (hlm. 41)

Sila Kelima
Menurut Bung Karno, sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan indikator untuk mencapai negara yang adil dan makmur. Terciptanya keadilan merupakan cita – cita segenap bangsa Indonesia (hlm. 44)

Ancaman Paham Paham Komunisme/Marxisme-Leninisme
Lahirnya Komunisme tidak terlepas dari perkembangan dan dominasi sistem kapitalisme. Sistem ekonomi kapitalisme merupakan bagian daripada ajaran Liberalisme. Sistem tersebut telah membawa kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi (hlm. 50).

Sejumlah orang – orang PKI melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang jenderal angkatan darat beserta keluarganya. Peristiwa yang dikenang sebagai gerakan G30S PKI tersebut, justru menjadi awal bagi kehancuran partai berlambang palu arit itu (hlm. 59)

Oleh sebab itulah, dengan melihat sejarah dan konsep pemikiran serta praktik pelaksanaan dari ajaran Marxisme/Komunisme tersebut, maka adanya larangan bagi perkembangan ajaran Marxisme serta partai komunisme indonesia merupakan hal yang tepat (hlm. 60)

Paham Ekstrimisme Agama/Terorisme
Terorisme merupakan salah satu kejahatan yang sering mendapat sorotan media. Terorisme telah menjelma menjadi kejahatan transnasional. Terorisme merupakan kejahatan yang harus ditangani secara khusus, sebab ia merupakan kejahatan serius yang dapat membahayakan ideologi Pancasila (hlm. 63)

Paham Sekularisme/Liberalisme
Dalam konteks Indonesia, doktrin sekularisme tidak sesuai dengan ideologi negara Pancasila. Secara filosofis ia bertentangan dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara ini mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, negara juga “memaksa” warganya untuk memilih agama dan kepercayaan yang diyakini (hlm. 89)

Dengan melihat berbagai perkembangan yang ada , buku dengan tema seperti ini sangat cocok menjadi bahan bacaan, terutama bagi generasi muda. Dengan gaya bahasa yang santai serta jumlah halaman yang tidak tebal, buku Pancasila for The Next Generation patut dijadikan referensi untuk memperkuat identitas nasional, serta menangkal berbagai paham yang berbahaya dan bertentangan dengan Pancasila.


* Penulis bernama Abdul Haris Najib, lahir di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa tengah pada 15 Februari 1999. Penulis sedang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Selain kuliah, Penulis aktif mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan, beberapa diantaranya yaitu KSP Principium, KDFH, dan FOSMI. Penulis dapat disapa di Instagram :@abdulharisnajib atau via email : abdulnajib1999@gmail.com

No comments:

Powered by Blogger.