Perempuan

Penulis : Herlina Dedy L
Lahir sebagai perempuan
Lahir sebagai manusia di sebelah matakan
Tumbuh menjadi metapora warisan artefak budayanya
Dia terbunuh sebelum mampu mengeja namanya 

Langit birunya selalu abu oleh bayang-bayang awan patriarkal
Udara paginya sesak oleh polusi udara misoginis 
Bumi tempatnya menjejak pengap terhimpit oleh sekat seharusya, sebaiknya, dan sepatutnya
Dia terbunuh sebelum mampu mengeja namanya

Mereka bilang malam gegap oleh bingar yang temaram,
Sunyi yang meninabobokan, tenang!
Tapi kepalanya pening oleh benturan realitas dan nuraninya,
Tapi telinganya berisik oleh tuntutan akan kemanusiaannya, 
Tapi matanya genang oleh sendu yang luber hanya karena, katanya, dia perempuan.
Dia terbunuh sebelum mampu mengeja namanya 

Kantuknya tak pernah hinggap pada siang atau malamnya
Dia ingin tidur,
Dia menuntut nyenyak, 
Dia masih mencari haknya di antara selangkangan kedua kakinya dan kemanusiaan dirinya. 
Dia ingin tidur,
Dia menolak terbunuh, sebelum mampu mengeja namanya. 


*Penulis Herlina Dedy Listiani, menikmati paradoks hidup dalam perannya sebagai Tenaga Kerja Sosial di bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga. Herlina bisa dihubungi di IG herlinadedy

No comments:

Powered by Blogger.