Sekolah Yang Memerdekakan Manusia - Resensi Buku Sekolah Apa ini?

Penulis : Hari Kusuma D
Judul : Sekolah Apa Ini?
Penulis : Gernatiti dkk
Penerbit : Insist Press
Tahun Terbit  : 2018
Jumlah Halaman : 252
ISBN : 978-602-0857-56-5

Sekolah Apa Ini? adalah buku yang saya beli ketika berkunjung ke pameran buku Patjar Merah di Semarang. Buku terbitan Insist Press ini tidak terlalu tebal, hanya sekitar 237 halaman dengan kertas novel (book paper) yang memanjakan mata pembaca.

Sebelum membeli buku ini saya sudah lumayan sering mendengar nama Sanggar Anak Alam (SALAM) yang terletak di pinggir kota Jogja. Ada nama besar yang melekat ketika mendengar SALAM yakni Romo Mangun dan Toto Miharjo. Melihat dua buku tentang SALAM berjejer, yakni Sekolah Biasa Saja karya Toto Miharjo dan Sekolah Apa Ini? karya bersama guru dan fasilitator Salam, saya reflek untuk memilih buku Sekolah Apa Ini? selain tampilan luarnya lebih menarik, buku ini lebih baru diterbitkan. 

Buku ini disusun oleh fasilitator dan wali murid SALAM dengan tujuan menjawab pertanyaan yang sering terlintas saat orang berkunjung ke sana. Bagaimana tidak, SALAM tidak pernah berhenti dikunjungi tamu baik mahasiswa, praktisi pendidikan atau mereka yang sekedar ingin tahu tentang sekolah tersebut. Sedangkan di Salam sendiri tidak ada divisi khusus yang menangani informasi mengenai sekolah SALAM, sehingga keberadaan buku ini diharap cukup membantu menjawab beberapa pertanyaan seputar SALAM. 

Ada beberapa hal menarik tentang SALAM yang dapat kita temukan setelah membaca buku ini. Pertama; SALAM adalah sekolah yang betul-betul membebaskan dalam praktek. Jika kita ingat tulisan Paulo Freire mengenai sekolah modern yang menerapkan sistem yang tidak memanusiakan manusia, maka SALAM ini adalah praktek dari teori Freire tentang sekolah yang memerdekakan. Benar-benar memerdekakan sebagai contoh kecil jam sekolah diterapkan berbasiskan kesepakatan, tidak berdasarkan ketentuan yang ditetapkan sekolah. 

Kedua, SALAM juga merupakan jawaban kritik Ivan Illich mengenai the schooling society atau paradigma yang menganggap bahwa sekolah adalah satu-satunya instansi yang berhak melakukan pendidikan dan satu-satunya instansi yang bertanggung jawab atas pendidikan anak. Pada perjalanannya mendidik siswa, SALAM mencoba membongkar paradigma tersebut dengan mengajak partisipasi aktif dari wali murid dan masyarakat sekitar dalam melangsungkan pendidikannya. 

Ketiga, dalam buku ini dijelaskan di SALAM tidak ada mata pelajaran dan tidak ada kurikulum tertulis seperti yang biasa kita temukan di sekolah pada umumnya karena di SALAM menerapkan sistem pendidikan berbasis riset tema yang dekat dengan para siswanya. Tema ini dapat dilihat pada pendidikan usia sekolah dasar, tema yang dipilih siswa bersifat tema-tema umum mulai dari tumbuhan, hewan, lingkungan dan semakin spesifik setelah bertambah tingkat. Pada contoh yang lain SALAM juga menerapkan pembelajaran tematik yang mengintegrasikan beberapa mata pembelajaran di mana tema-tema kecil antar siswa yang berbeda dengan siswa lain dijadikan satu tema besar. 

Penerapan sistem tematik juga sangat relevan dengan teori pendidikan yang membebaskan karena siswa bisa dengan sesuka hati belajar apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka butuhkan. Hal terberat ada pada fasilitator karena harus sangat fleksibel dan memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang tema apapun, karena tidak ada batasan untuk siswa yang akhirnya ingin mereka pelajari dalam satu semester. 

Keempat, buku ini menjelaskan mulai dari perencanaan sampai evaluasi pembelajaran yang dilakukan di SALAM. Cukup menarik, karena ide tentang sekolah yang membebaskan, pendidikan inklusif, kemandirian belajar yang biasanya hanya saya temui dalam diskusi, bisa kita baca prakteknya dalam buku ini.

Terdapat sembilan bab yang menurut saya pembagian isinya masih kurang jelas, masih banyak hal diulang di sana-sini misalnya tentang metode pembelajaran yang berbasis riset penjelasanya terasa diulang-ulang. Alangkah lebih nyaman ketika buku ini dibagi dalam beberapa tema seperti; sistem rekruitmen siswa, sistem perencanaan pembelajaran, sistem pembelajaran, sistem evaluasi. Meskipun begitu di luar pembagian bab yang menurut saya kurang rapi tidak menutupi bermanfaatnya membaca buku ini.

Menurut saya buku ini cukup menjadi solusi di tengah kebingungan praktisi pendidikan tentang praktek sekolah yang membebaskan ala Paulo Freire atau iklim pendidikan yang sehat ala Ivan Illich. Walaupun dalam prakteknya masih banyak beberapa kekurangan namun buku ini dan SALAM menjadi bukti bahwa sekolah yang memanusiakan manusia dan sekolah yang memerdekakan manusia bukan sekedar teori tanpa bisa diaplikasikan.

*Penulis Hari Kusuma D, mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang sekarang aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam Badko Jateng-DIY. Hari dapat disapa di akun IGhariku_

No comments:

Powered by Blogger.