Petualangan Si Gembala Domba - Resensi Novel Sang Alkemis

Penulis : Jihan Arsya N
Novel terjemahan berjudul Sang Alkemis (The Alchemist) ini aku temukan dari koleksi buku-buku Bapak. Awalnya tidak tahu bahwa ada novel ini, jikalau Bapak tidak menyinggung terkait novel karangan Paulo Coelho ini di sela-sela obrolan ringan kala di rumah. Akhirnya, aku pun tergerak untuk membaca novel itu.

Sang Alkemis menceritakan avontur seorang anak laki-laki asal Andalusia, Spanyol untuk memperoleh harta karun di Piramida Mesir. Santiago. Santiago, nama anak itu. Orangtua Santiago menginginkannya menjadi seorang pastor namun Santiago memiliki impian lain, Berkelana! Atas restu ayahnya, Santiago pun berkelana menjelajahi Andalusia dengan jalan menjadi penggembala domba. 

Setahun sudah Santiago berkelana dan menjadi pengembala domba. Suatu saat, sebelum menjual wol di pasar, Santiago singgah ke sebuah tempat di Tarifa, hendak menanyakan tafsir dari mimpi yang telah dua kali menghampirinya.

Seorang perempuan tua bersuku Gipsi, menafsirkan mimpi Santiago bahwa Santiago harus pergi ke Piramida Mesir untuk menemukan harta karun. Santiago ragu dengan tafsiran perempuan Gipsi itu, karena stigma orang Gipsi yang suka menipu.

Santiago juga bertemu seorang laki-laki tua yang mengaku sebagai Raja Salem, Melkisedek. Raja tersebut mengetahui mimpi Santiago dan mengatakan bahwa itulah takdir Santiago. Dilema menghampiri Santiago, tetap menjadi penggembala domba atau berkelana ke Piramida Mesir untuk memperoleh harta karun.

Hal tersebut membuat Santiago merenung, menggembala domba sudah menjadi hal biasa baginya namun berkelana sampai Piramida Mesir adalah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mengingat impian dari Santiago adalah berkelana, ia memutuskan untuk berangkat ke tumpukan-tumpakan batu berbentuk segitiga itu. 

Raja Salem menjelaskan cara mencapai Piramida Mesir. Pertama, ikuti pertanda yang ada karena Tuhan sudah menyiapkan jalan pada setiap orang, sehingga orang-orang cukup membaca pertanda itu. Kedua, Santiago diberi batu “Urim dan Tumim” untuk membantu ia tatkala tidak mampu membaca pertanda.

Perjalanan menuju harta karun dimulai didi Tangi, Afrika. Santiago ditipu oleh seorang pemuda yang menjanjikan akan mengantarnya ke Piramida Mesir. Uang perbekalan Santiago ludes dibawa pemuda itu. Santiago berusaha untuk bertahan hidup di negeri orang, akhirnya bekerjalah dia pada seorang lelaki pedagang kristal. Hampir setahun Santiago bergelut dengan kristal-kristal, upah yang terkumpul cukup untuk kembali ke Spanyol.

Pertanda datang di kala Santiago akan kembali ke Spanyol, dia teringat kata Raja Salem, “jangan pernah berhenti bermimpi, ikuti tanda-tanda”. Santiago pun melanjutkan perjalanan menuju Piramida Mesir dan bertemu seorang pemuda asal Inggris yang hendak pergi mencari Sang Alkemis. Mereka berdua bersama rombongan menggunakan karavan untuk melintasi padang pasir.

Kabar burung datang di tengah perjalanan yang membawa pesan bahwa akan terjadi perang antar suku dan ini membahayakan rombongan. Perjalanan terus dilakukan hingga rombongan menemukan oasis dan singgah di sana untuk berlindung dari perang itu. Oasis menjadi tempat yang aman karena dalam tradisi oasis merupakan wilayah netral sehingga tak akan ada yang menyerang oasis.

Oasis juga menjadi tempat yang mempertemukan Santiago dengan Fatima yang kemudian dipinang untuk menjadi istrinya. Romantisme digambarkan oleh keikhlasan dan dorongan Fatima kepada Santiago untuk tetap mengejar impiannya. Fatima mengucapkan kata-kata manis gombalan, “Bukit-bukit pasir ini senantiasa berubah diembus angin, akan tetapi padang gurun itu tidak akan pernah berubah. Begitu pula cinta kita.” 

Santiago melihat pertanda bahwa oasis akan diserang dan menyampaikan itu kepada para kepala suku. Pertanda itu benar, terjadi serangan dari kelompok suku lain. Di oasis ini pula, Santiago dipertemukan dengan Sang Alkemis yang kemudian membantu Santiago melakukan perjalanan menuju Piramida Mesir. 

Padang pasir memang penuh kejutan. Rintangan muncul, Santiago dan Sang Alkemis dihadang dan kemudian ditahan oleh suatu suku. Mereka dianggap sebagai mata-mata. Akhirnya untuk menyelamatkan diri, Sang Alkemis menyerahkan uang milik Santiago kepada Pimpinan Pasukan dan mengatakan Santiago bisa memiliki kekuatan angin untuk menghancurkan perkemahan suku itu. Pimpinan suku ingin bukti dan Sang Alkemis membutuhkan waktu. Santiago takut dan kaget bukan kepalang, karena dia tidak memiliki kekuatan angin.

Selama tiga hari, Santiago belajar untuk mengubah dirinya menjadi angin supaya tidak mati di tangan prajurit suku itu. Santiago mengikuti suara hatinya, ia berbicara pada angin, padang pasir, dan matahari hingga ia berhasil mengubah dirinya menjadi angin.

Sang Alkemis, novel yang diterjemahkan oleh Tanti Lesmana ini menggunakan bahasa yang cukup sederhana. Namun, terdapat beberapa istilah yang perlu dipahami maknanya untuk kelancaran membaca novel ini, karena beberapa istilah tersebut dituliskan secara kontinyu seperti Jiwa Dunia, Karya Agung, Lempeng Zamrud dan lainnya.

Novel keluaran tahun 1988 ini menyisipkan pesan-pesan dalam setiap avontur yang dilakukan Santiago dan relevan dengan kondisi saat ini. Ketakutan-ketakutan akan kegagalan, usaha-usaha dalam meraih impian, dilema dalam mengambil keputusan, tidak adanya kendali atas hidup yang kita jalani, cinta, dan lainnya yang kontekstual dengan apa yang orang-orang hadapi. 

Adanya penegasan nilai dengan repetisi pesan seperti, “Saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya”. In general (aksen anak Jaksel), novel ini cocok untuk fulan-fulan yang sedang mengalami dilematika akan impian-impiannya, terkungkung dengan konstruk sosial, pun yang sedang dirundung rindu karena LDR (long distance relationship).

Lantas, bagaimana keberadaan harta karun di Piramida Mesir itu? Ataukah itu hanya sekedar ilusi Santiago? Ataukah kongkalikong antara perempuan Gipsi, Raja Salem, dan Sang Alkemis? Yok dibaca yok!

Judul Buku : Sang Alkemis (The Alchemist)
Penulis : Paulo Coelho
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 216

* Penulis Jihan Arsya Nabila bisa disapa di  akun media sosial Twitter dan Instagram @jihanarsya

No comments:

Powered by Blogger.